Harga Batu Bara Diramal Masih Bertengger di US$ 400 Pekan Ini

Market - Maesaroh & Maesaroh, CNBC Indonesia
23 May 2022 06:55
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batu bara diperkirakan masih akan melambung dan bertahan di level US$ 400 per ton pada pekan ini. Tingginya permintaan dari India dan Eropa akan menjadi pendorongnya.

Pekan lalu, harga batu kontrak Juni di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 421,15 per ton. Menguat 16,4% dalam sepekan. Kenaikan ini jauh lebih besar dibandingkan penguatan pada pekan sebelumnya yakni 0,9%.





Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi memperkirakan harga batu bara masih sulit turun pada pekan ini. "Untuk seminggu ke depan masih (US$ 400). Kecuali ada shock lagi misalnya China kembali lockdown. India masih meningkatkan impornya juga. Upward pressure kuat," papar Zuhdi.

Pemerintah India baru saja memutuskan untuk menghapus bea impor untuk batu bara jenis kokas, PCI dan antrasit sehingga bea masuknya menjadi 0%. Penghapusan bea impor untuk beberapa jenis batu bara yang berlaku sejak Minggu kemarin (22/5/2022) merupakan langkah kesekian yang dilakukan India untuk mengamankan pasokan.

Sebelumnya, pemerintah India mendesak dunia usaha di negaranya untuk segera merealisasikan impor batu bara sebanyak 19 juta ton. Tenggat waktunya adalah akhir Juni ini.

Negeri Bollywood tengah dihadapkan pada krisis pasokan batu bara setelah permintaan listrik melonjak. Gelombang panas membuat penggunaan listrik untuk pendingin ruangan meningkat sehingga kebutuhan listrik pun melonjak. Batu bara berkontribusi terhadap 80% pasokan listrik India.

Permintaan dari India diperkirakan masih akan tinggi ke depan karena mereka akan menghadapi musim penghujan pada Juli-September yang biasanya membuat penggunaan listrik naik. Kementerian Kelistrikan India memperkirakan permintaan listrik akan mencapai puncaknya sekitar 210-220 Giga Watt selama Juli-September saat musim hujan.

Namun, lonjakan permintaan listrik datang lebih awal di pertengahan Mei karena ada gelombang panas serta pemulihan ekonom.

"Saya tidak khawatir dengan kondisi sekarang. Saya lebih mengkhawatirkan musim hujan. Jika kita tidak meningkatkan produksi kita akan memiliki persoalan pasokan saat musim penghujan nanti," ujar Menteri Kelistrikan India R K Sinh, seperti dikutip Times of India.

Sementara itu, dibukanya kembali Shanghai diperkirakan juga akan mempercepat pergerakan ekonomi China sehingga permintaan batu bara meningkat. Shanghai akan dibuka pada 1 Juni mendatang setelah "dikunci" selama dua bulan.

Permintaan batu bara dari negara-negara Eropa juga akan tetap tinggi setelah mereka berkomitmen untuk melepas ketergantungan terhadap pasokan energi dari Rusia, mulai dari gas, batu bara, hingga minyak mentah.

Menghilangkan ketergantungan energi dari Rusia berarti Uni Eropa akan menggunakan pembangkit batu bara lebih lama dari pada yang direncanakan semula.

"Untuk mengatasi krisis dalam jangka pendek, artinya kami harus mencari 44-56 juta ton batu bara yang diimpor dari negara lain. Pembangkit batu bara juga kemungkinan akan beroperasi lebih lama dari yang diperkirakan," tulis Komisi Uni Eropa dalam Communication REPowerEU Plan COM(2022)230.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Batu Bara Anjlok 1% Lebih! Sans, Nanti Naik Lagi Kok...


(mae/mae)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading