Ngamuk, Harga Batu Bara Melesat 16% Pekan Ini

Market - CNBC Indonesia & CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
22 May 2022 08:04
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batu bara melesat 16% lebih pekan ini. Harga batu hitam bahkan kembali menembus level psikologis US$ 400 per ton dan mencatat rekor tertingginya dalam dua bulan.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (20/5), harga batu kontrak Juni di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup pada level US$ 421,15 per ton. Menguat 16,4% dalam sepekan. Dalam sebulan, harga batu hitam sudah melonjak 17,7% sementara dalam setahun terbang 290,3%.
Level harga tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak 9 Maret 2022 atau lebih dari dua bulan terakhir.

Harga batu bara merangkak naik sejak Senin (16/5/2022) kemudian meloncat pada Rabu (18/5/2022). Pada perdagangan Rabu pekan ini, harga batu bara ditutup di US$ 407,00 per ton, atau kembali menyentuh level psikologis US$ 400 per ton. Terakhir kali harga batu bara menyentuh di atas US$ 400 per ton adalah pada 9 Maret 2022 (US$ 426,85 per ton).


Sebagai catatan, perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 24 Februari membuat harga batu bara melonjak dari harga di kisaran US$ 250 per ton di akhir Februari menjadi di kisaran US$ 400 di awal Maret. Harganya bahkan menyentuh ke level tertinggi dalam sejarah pada 2 Maret 2022 di angka US$ 446,00 per troy ons.
Harga batu bara kemudian kembali melemah dan bergerak di bawah US$ 300 per ton sebelum kembali melonjak di pertengahan Mei.

Lonjakan harga batu bara pekan ini dipicu oleh tingginya permintaan karena India, Jepang, dan negara-negara Uni Eropa tengah bergerak cepat untuk mengamankan pasokan.

Permintaan dari India meningkat tajam karena Negara Bollywood tengah dilanda krisis listrik. Gelombang panas yang melanda India membuat penggunaan listrik untuk pemanas meningkat tajam sehingga pasokan batu bara di pembangkit listrik menipis.
Permintaan dari India diperkirakan masih akan tinggi ke depan karena mereka akan menghadapi musim penghujan pada Juli-September yang biasanya membuat penggunaan listrik naik.

Kementerian Kelistrikan India memperkirakan permintaan listrik akan mencapai puncaknya sekitar 210-220 Giga Watt (GW) selama Juli-September atau saat musim hujan datang.

Namun, lonjakan permintaan listrik datang lebih awal di pertengahan Mei karena ada gelombang panas serta pemulihan ekonom. Sebagai catatan, Batu bara berkontribusi terhadap 80% pasokan listrik India.
"Saya tidak khawatir dengan kondisi sekarang. Saya lebih mengkhawatirkan musim hujan. Jika kita tidak meningkatkan produksi kita akan memiliki persoalan pasokan saat musim penghujan nanti," ujar Menteri Kelistrikan India R K Sinh, seperti dikutip Times of India.

Sementara itu, perusahaan dan utilitas Jepang tengah mempercepat pengiriman dan kontrak dengan Australia untuk mengamankan pasokan.  Australia menjadi pilihan utama karena batu bara yang dihasilkan dari negara tersebut masuk dalam kualitas tinggi yang dibutuhkan. Batu bara dari Vietnam dan Indonesia dianggap kurang memenuhi syarat tersebut.

Dari Eropa dilaporkan, Komisi Uni Eropa sepakat untuk menghilangkan ketergantungan suplai energi dari Rusia. Uni Eropa akan menambah investasi sebesar 210 miliar euro selama lima tahun untuk mengurangi ketergantungan energi fosil dari Rusia dan beralih ke energi hijau.

Namun, Uni Eropa mengakui sulit bagi mereka untuk benar-benar menghilangkan sumber energi fosil untuk pembangkit mereka dalam jangka pendek.
Untuk menutupi hilangnya pasokan energi dari Rusia, termasuk gas, mereka akan meningkatkan kapasitas pembangkit batu bara mereka.
Menghilangkan ketergantungan energi dari Rusia berarti Uni Eropa akan menggunakan pembangkit batu bara lebih lama dari pada yang direncanakan semula.

"Untuk mengatasi krisis dalam jangka pendek, artinya kami harus mencari 44-56 juta ton batu bara yang diimpor dari negara lain. Dalam jangka panjang, penggunaan batu bara diharapkan sudah semakin berkurang, di sebagian besar negara mungkin akan hilang di akhir 2030," tulis Komisi Uni Eropa dalam Communication REPowerEU Plan COM(2022)230.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Batu Bara Anjlok 1% Lebih! Sans, Nanti Naik Lagi Kok...


(mae)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading