Good News! Bursa Asia Bangkit Lagi, Hang Seng Naik Nyaris 2%

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
20 May 2022 08:56
FILE PHOTO: An investor looks at an electronic screen at a brokerage house in Hangzhou, Zhejiang province, January 26, 2016.  REUTERS/China Daily

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung menguat pada perdagangan Jumat (20/5/2022), setelah melewati periode yang volatil sepanjang pekan ini.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,23%, Hang Seng Hong Kong melejit 1,81%, Shanghai Composite China bertambah 0,46%, Straits Times Singapura melonjak 1,24%, ASX 200 Australia melaju 0,36%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,68%.

Dari China, bank sentral (People Bank of China/PBoC) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya untuk tenor 1 tahun, di tengah sikap agresif bank sentral di banyak negara, utamanya negara-negara maju. Namun untuk tenor 5 tahun kembali dipangkas.


Suku bunga pinjaman acuan bank sentral China tenor 1 tahun tetap berada di level 3,7%. Sedangkan untuk suku bunga pinjaman acuan tenor 5 tahun dipangkas menjadi 4,45%.

Pemangkasan suku bunga acuan tenor 5 tahun sudah sesuai dengan prediksi pelaku pasar dalam polling Reuters, meski suku bunga acuan tenor 1 tahun meleset dari prediksi pasar.

Sebelumnya, 18 pelaku pasar atau 64% dari 28 peserta dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga dasar pinjaman (LPR) satu tahun atau tenor lima tahun.

Sedangkan 10 peserta lainnya percaya bahwa LPR tidak akan berubah untuk bulan keempat berturut-turut, sejalan dengan biaya pinjaman yang stabil dari pinjaman fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF) bank sentral, yang sekarang berfungsi sebagai panduan untuk patokan pinjaman.

Sejumlah data termasuk pinjaman kredit, hasil industri, dan penjualan ritel China cenderung melambat akibat langkah-langkah ketat terkait Covid-19 dan pembatasan mobilitas, di mana hal ini juga telah berdampak besar pada ekonomi secara luas.

Pinjaman bank baru mencapai level terendah dalam hampir 4 tahun terakhir dan meleset dari perkiraan pasar dengan selisih yang besar.

Di lain sisi, cenderung cerahnya bursa Asia-Pasifik pada hari ini terjadi di tengah koreksinya kembali bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis kemarin waktu setempat, karena investor masih khawatir dengan potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS untuk melawan inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,75% ke level 31.253,13, S&P 500 terkoreksi 0,59% ke posisi 3.900,72, dan Nasdaq Composite terpangkas 0,26% menjadi 11.388,5.

S&P 500 saat ini terhitung anjlok 18% secara point-to-point (ptp) dari rekor tertingginya. Jika koreksi sampai menyentuh 20% atau lebih maka indeks acuan utama bursa AS tersebut terkategori memasuki fase bearish, menjadi yang pertama sejak Maret 2020 ketika terjadi aksi jual akibat pandemi Covid-19.

Sementara Dow Jones telah mencapai level terendah sejak tahun 2021. Terhitung dari puncak harga tertinggi pada awal Januari, Dow Jones telah jatuh 15,3% ptp. Diikuti oleh Nasdaq yang turun 29% ptp.

"Aksi jual bagi investor adalah untuk bersiap menghadapi volatilitas yang berkepanjangan," kata Greg Bassuk, CEO di AXS Investments.

Bursa saham global telah berada di bawah tekanan di sepanjang tahun ini, di mana kekhawatiran akan melonjaknya inflasi dan kenaikan suku bunga acuan telah memicu aksi jual aset berisiko seperti ekuitas.

Inflasi yang masih meninggi juga berpotensi mempengaruhi laba perusahaan, utamanya perusahaan peritel, di mana hal ini sudah terbukti terdampak di beberapa perusahaan peritel di AS.

Sebelumnya, kinerja keuangan peritel AS seperti Target dan Walmart yang menunjukkan bahwa kenaikan harga energi dan permintaan konsumen yang tertahan berujung pada tekanan pendapatan mereka di tengah inflasi yang masih panas. Alhasil, saham peritel seperti Wallmart dan Target kembali turun. Masing-masing anjlok 2,74% dan 5,06%.

"Aksi jual besar-besaran di perusahaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi akhirnya berdampak pada laba," tulis analis Barclays Maneesh S. Deshpande dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Sementara itu, klaim tunjangan pengangguran baru untuk periode pekan yang berakhir 15 Mei 2022 tercatat sebanyak 218.000 dalam sepekan terakhir.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Kebakaran! Ada yang Ambles 3%, IHSG Gimana?


(chd/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading