Bursa Asia Ambruk Lagi, Tapi Tidak Untuk Shanghai & IHSG

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
19 May 2022 17:05
A woman walks by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Dec. 2, 2019. Asian stock markets have risen after Chinese factory activity improved ahead of a possible U.S. tariff hike on Chinese imports. Benchmarks in Shanghai, Tokyo and Hong Kong advanced. (AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (19/5/2022), di tengah meningkatnya kembali kekhawatiran investor mengenai inflasi global yang berimbas pada kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.

Indeks Hang Seng Hong Kong memipin koreksi bursa Asia-Pasifik pada hari ini, yakni anjlok 2,54% ke level 20.120,68. Saham teknologi China yang terdaftar di bursa Hong Kong yakni Tencent ditutup ambruk 6,51%, setelah perseroan melaporkan laba kuartal I-2022 yang berkurang setengahnya.

Sedangkan saham teknologi China lainnya seperti Alibaba ambles 7,39% dan Meituan merosot 3,78%. Hal ini membuat indeks teknologi Hang Seng ambruk 3,98%.


Sedangkan bursa Asia-Pasifik lainnya juga terpantau terkoreksi tetapi tidak lebih dari 2%. Indeks Nikkei Jepang ditutup ambles 1,89% ke level 26.402,84, Straits Times Singapura merosot 1,07% ke 3.190,71, ASX 200 Australia ambrol 1,65% ke 7.064,5, dan KOSPI Korea Selatan tergelincir 1,28% ke posisi 2.592,34.

Hanya indeks Shanghai Composite China dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di zona hijau pada hari ini. Shanghai ditutup menguat 0,36% ke level 3.096,96 dan IHSG berakhir terapresiasi 0,44% ke posisi 6.823,335.

Dari Jepang, ekspor pada periode April 2022 tercatat kembali naik dua digit, ditopang oleh permintaan dari AS. Namun, kenaikan ekspor Negeri Sakura pada bulan lalu cenderung terpangkas.

Kementerian Keuangan Jepang melaporkan ekspor pada April 2022 naik 12,5% (year-on-year/yoy), lebih rendah dari kenaikan yang terjadi pada Maret lalu sebesar 14,7% dan lebih rendah dari ekspektasi pasar pada survei Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 13,8%.

Sementara itu, impor Jepang juga menguat meski penguatannya juga terpangkas, yakni sebesar 28,2% pada bulan lalu, dari kenaikan Maret lalu sebesar 31,2%. Melonjaknya biaya komoditas global turut meningkatkan tagihan impor Jepang, menambah kekhawatiran tentang kenaikan biaya hidup.

Secara garis besar, investor global termasuk di Asia-Pasifik kembali khawatir dengan inflasi global yang menyebabkan harga barang kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan yang signifikan.

Saham dan aset berisiko lainnya seperti kripto telah tertekan oleh inflasi dan upaya bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menekan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan secara agresif, yang meningkatkan potensi terjadinya resesi di Negeri Paman Sam.

Ketua The Fed, Jerome Powell dalam konferensi Wall Street Journal (WSJ) menyatakan tidak akan ragu menaikkan suku bunga acuan hingga inflasi terkendali.

Di lain sisi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun-yang menjadi acuan di pasar-pun kembali menguat melewati level 3% pada perdagangan Rabu kemarin waktu AS.

Namun pada pukul 05:50 hari ini waktu AS atau pukul 16:50 WIB, yield Treasury tenor 10 tahun cenderung kembali melandai ke kisaran level 2,8%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Merah, Nikkei-Hang Seng Ambles 1% Lebih


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading