AS-Venezuela Mau 'Rujuk', Harga Minyak Ambruk

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
19 May 2022 07:30
Suasana pengisian BBM di SPBU Bojongsari, Jawa Barat, Jumat (14/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia anjlok. Ini membuat harga si emas hitam terkoreksi dalam dua hari perdagangan beruntun.

Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 109,11/barel. Turun 2,52% dari posisi hari sebelumnya.

Pada 17 Mei 2022, harga brent ambles 2,02%. Jadi dalam dua hari, harga merosot 4,49%.


Sementara yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya US$ 109,59/barel. Ambrol 2.5%. Dalam dua hari terakhir, harga light sweet ambruk 4,04%.

Kejatuhan harga minyak disebabkan oleh ekspektasi membanjirnya pasokan. US Energy Information Administration melaporkan stok minyak Amerika Serikat (AS) pekan lalu turun 3,4 juta barel dibandingkan pekan sebelumnya.

"Laporan ini membuat dunia usaha sangat bullish. Produsen akan menggenjot produksi dan menggelontorkannya ke pasar," kata John Kilduff, Partner di Again Capital LLC, seperti dikutip dari Reuters.

Kemudian, ada kabar beredar bahwa pemerintah AS berencana melonggarkan sanksi ke Venezuela. Pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, Negeri Adikuasa menjatuhkan berbagai sanksi ke Venezuela, salah satunya larangan membeli minyak asal negara yang banyak melahirkan Miss Universe tersebut.

Namun tingginya harga minyak yang menyebabkan inflasi terdongkrak membuat AS merasa ada kebutuhan untuk menurunkannya. Salah satunya dengan menambah pasokan sehingga harus melibatkan produsen besar yakni Venezuela.

"Persepsi bahwa minyak Venezuela akan segera datang membuat investor melakukan profit taking sehingga menekan harga," ujar Dennis KIssler, Senior Vice President BOK Financials, sebagaimana diwartakan Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Omicron Jadi Omi-Gone, Harga Minyak Melesat!


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading