Bursa Asia Cerah Lagi, IHSG Melejit 2%, Tapi Shanghai Loyo

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
18 May 2022 16:36
People walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Tuesday, Dec. 3, 2019. Asian shares slipped Tuesday, following a drop on Wall Street amid pessimism over U.S.-China trade tensions. (AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup kembali cerah pada perdagangan Rabu (18/5/2022), di mana investor di kawasan tersebut masih mengevaluasi pernyataan dari Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) yang mengatakan akan menyelesaikan persoalan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan.

Hanya indeks Shanghai Composite China yang ditutup melemah pada perdagangan hari ini, di mana indeks saham Negeri Tirai Bambu tersebut ditutup terkoreksi 0,25% ke level 3.085,98.

Sedangkan sisanya kembali ditutup menghijau. Indeks Nikkei Jepang ditutup melesat 0,94% ke level 26.911,199, Hang Seng Hong Kong menguat 0,2% ke 20.644,279, dan ASX 200 Australia melonjak 0,99% ke posisi ke 7.182,7.


Berikutnya Straits Times Singapura melompat 0,73% ke level 3.225,35, KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,21% ke 2.625,98, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melejit 2,24% ke posisi 6.793,41.

Cerahnya sebagian besar bursa Asia-Pasifik pada hari ini terjadi di tengah melambatnya ekonomi Jepang pada kuartal pertama tahun 2022.

Pemerintah setempat melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang pada kuartal I-2022 turun menjadi 1% secara tahunan, dibandingkan dari periode yang sama tahun 2021 sebesar 3,8%.

Sedangkan secara kuartalan, PDB Jepang juga turun 0,2%, dari kuartal sebelumnya atau kuartal IV-2021 sebesar 0,9%.

Namun, hasil tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan perkiraan median penurunan kuartalan sebesar 0,3% dalam survei terhadap 36 ekonom oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang. Jika efek inflasi dikecualikan, ekonomi Negeri Matahari Terbit bisa saja akan tumbuh 0,2%.

Melansir Nikkei Asia, negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu tercatat mengalami kontraksi dalam tiga dari lima kuartal terakhir dan belum kembali ke tingkat sebelum pandemi.

Selama sebagian besar kuartal pertama, Jepang memberlakukan pembatasan ekonomi di sebagian besar negara sebagai upaya membendung gelombang terbesar infeksi Covid-19.

Akibatnya, warga dilarang pergi berbelanja atau makan di luar yang menyebabkan penurunan tajam dalam konsumsi pribadi.

Sektor rumah tangga juga terpukul oleh kenaikan harga pangan dan energi yang berasal dari dampak perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 24 Februari.

Jepang merupakan importir bersih pangan dan energi, sehingga inflasi komoditas yang terjadi menyebabkan impor tumbuh jauh lebih cepat daripada ekspor.

Untuk mengurangi dampak inflasi, pemerintahan Perdana Menteri (PM) Fumio Kishida pada Selasa kemarin menyetujui program pengeluaran fiskal 2,7 triliun yen atau sekitar Rp307 triliun.

Jumlah ini terdiri dari subsidi bensin dan pemberian uang tunai kepada keluarga berpenghasilan rendah. Bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) juga melawan tren pengetatan global dengan menjaga biaya kredit pada level terendah untuk bisnis dan rumah tangga.

Investor di Asia-Pasifik juga masih mengevaluasi pernyataan dari ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mengatakan akan menyelesaikan persoalan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan.

Ketua The Fed, Jerome Powell memberikan pernyataannya pada konferensi pers Wall Street Journal (WSJ), di mana Powell akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menurunkan inflasi AS yang masih panas pada April lalu.

Powell akan mendukung kenaikan suku bunga sampai inflasi turun ke tingkat yang sehat. Di sisi lain, penjualan ritel tercatat sesuai dengan ekspektasi pasar dengan menguat 0,9% pada April lalu.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Kebakaran! Ada yang Ambles 3%, IHSG Gimana?


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading