Bursa Asia Cerah Bergairah, Hang Seng Melejit 3% Lebih

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
17 May 2022 16:53
Employees of the Korea Exchange (KRX) pose in front of the final stock price index during a photo opportunity for the media at the ceremonial closing event of the 2018 stock market in Seoul, South Korea, December 28, 2018.    REUTERS/Kim Hong-Ji

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik ditutup cerah bergairah pada perdagangan Selasa (17/5/2022), di mana pasar saham global mencoba untuk membangun momen positif pada pekan ini setelah berhasil melewati pekan yang bergelombang.

Indeks Hang Seng Hong Kong memimpin penguatan bursa Asia-Pasifik pada hari ini, yakni ditutup terbang 3,27% ke level 20.602,52, ditopang oleh saham teknologi China yang terdaftar di bursa Hong Kong.

Saham Tencent Holdings ditutup melejit 5,26%, disusul saham Alibaba yang meroket 7,03%, dan saham Meituan melonjak 6,24%. Indeks teknologi Hang Seng pun terbang 5,78%.


Sedangkan bursa Asia-Pasifik lainnya juga berakhir menghijau meski sebagian besar penguatannya masih dibawah 1%. Indeks Nikkei Jepang ditutup menguat 0,42% ke level 26.659,75, Shanghai Composite China bertambah 0,65% ke 3.093,7, dan ASX 200 Australia tumbuh 0,27% ke 7.112,5.

Sedangkan untuk indeks Straits Times Singapura ditutup melaju 0,34% ke level 3.201,89, KOSPI Korea Selatan melesat 0,92% ke 2.620,44, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terapresiasi 0,7% ke posisi 6.644,467.

"Seperti yang sering terjadi di pasar ekuitas, ketika berita sepertinya tidak akan menjadi lebih buruk, saat itulah pelaku pasar mulai melihat kurang buruk sebagai barang baru," kata David Wong, ahli strategi investasi senior di AllianceBernstein, dikutip dari CNBC International.

"Ketika kita melihat China, data fundamentalnya sangat buruk dan ada begitu banyak berita buruk sehingga saya pikir ada sentimen yang berkembang dan akan ada lebih banyak dukungan kebijakan untuk ekonomi, untuk perusahaan, dan untuk pasar ekuitas," tambah Wong.

Komentar Wong muncul ketika investor global bergulat dengan berbagai kekhawatiran mulai dari dampak ekonomi dari kebijakan ketat nol-Covid di China hingga kekhawatiran potensi resesi di Amerika Serikat (AS), di mana kekhawatiran investor ini telah berlangsung selama beberapa pekan.

Sementara itu dari Australia, bank sentral Negeri Kanguru (Reserve Bank of Australia/RBA) resmi menaikan suku bunga acuannya setelah pertemuan edisi Mei 2022, di mana kenaikan suku bunga tersebut menjadi yang pertama kalinya sejak lebih dari satu dekade.

Seperti diketahui, RBA dua pekan lalu menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 0,35% dari rekor terendah sepanjang masa 0,1%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak November 2010.

Bahkan kenaikannya lebih besar dari prediksi ekonom yang disurvei Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 15 bp.

Dalam notula yang dirilis hari ini, terungkap RBA dua pekan lalu mempertimbangkan kenaikan sebesar 15 bp, 25 bp hingga 40 bp.

Artinya, RBA sebenarnya lebih hawkish, sebab ada pertimbangan kenaikan sebesar 40 bp. Hal ini menguatkan ekspektasi bank sentral pimpinan Philip Lowe tersebut akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Kenaikan suku bunga tersebut dilakukan sebab perekonomian yang terus membaik, dan inflasi yang menanjak hingga melampaui target. Beberapa pejabat The Fed melihat inflasi tinggi tidak hanya disebabkan faktor global, tetapi juga demand dari dalam negeri yang kuat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Kebakaran! Ada yang Ambles 3%, IHSG Gimana?


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading