Geger Rontoknya Terra, Kripto Berguguran Pekan Ini

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
14 May 2022 15:13
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Art Rachen on Unsplash) Foto: Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Art Rachen on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar kripto mengalami pekan yang buruk, diwarnai rontoknya harga stablecoin UST yang dirilis Terra secara dramatis. Kendati sempat mencoba rebound pada Jumat kemarin (13/5), harga bitcoin (BTC) cs kembali tertekan hari ini, Sabtu (14/5).

Menurut data Coinmarketcap, pukul 14.16 WIB, harga BTC turun 2,93%, kembali melorot dari level US$ 30.000, ke US$ 29.481,83 per koin. Selama sepekan, koin kripto terbesar ini merosot 17,70%.

Ethereum (ETH) juga turun 2,19% selama harian. Sementara, dalam sepekan ETH anjlok 23,31%.


Secara umum, kripto-kripto utama (big cap) masih tertekan selama sepekan ini.

Kripto Big Cap (Selain Stablecoin, seperti Tether)

Nama

Kode

Harga Terakhir (US$)

Harga Terakhir (Rp)

% Sepekan

Bitcoin

BTC

29481.83

429,579,745

-17.70

Ethereum

ETH

2041.6

29,748,154

-23.31

BNB

BNB

291.87

4,252,838

-22.40

XRP

XRP

0.432

6,295

-27.37

Cardano

ADA

0.5378

7,836

-30.30

Sumber: Coinmarketcap.com per Sabtu (14/5/2022), pukul 14.16 WIB

Bahkan, dari 100 besar koin/token kripto di Coinmarketcap, hanya Maker (MKR) yang sukses naik dua digit (13,81%) dan menjadi top gainers sepekan.

Sisanya didominasi oleh stablecoin macam Binance USD (BUSD) yang naik 0,24%, Pax Dollar (USDP) naik 0,12%, atau TrueUSD (TUSD) yang menguat 0,11%.

Ambruknya Harga UST dan LUNA

Sementara, berbeda dengan stablecoin lainnya yang harganya cenderung stabil (sesuai dengan namanya), TerraUSD (UST) mengalami pekan dramatis dengan anjlok 81,63%.

Hal ini menjadi sorotan utama pelaku pasar dan menjadi sentimen utama pergerakan harga aset kripto, selain soal kenaikan suku bunga a la The Fed, selama pekan ini.

Stablecoin sejatinya dipatok dengan rasio 1:1 terhadap dolar AS, sehingga harganya harus bertahan di kisaran US$ 1 per keping, meski terkadang harganya melebihi sedikit atau lebih rendah sedikit.

Berkaitan dengan itu, token besutan Terra pun, LUNA, terimbas hingga membuat harganya terjun bebas hingga 100% ke US$ 0,0002137 hanya dalam waktu sepekan. Padahal, pada 5 Maret 2022, misalnya, harga token LUNA masih di US$ 87,09/token.

Sejatinya, belum diketahui dengan pasti penyebab turunnya harga TerraUSD. Namun yang terang, masalah ini telah menyeret jatuh harga Terra LUNA. Apalagi UST merupakan salah satu stablecoin terbesar di pasar kripto.

Dengan kasus kejatuhan UST, maka banyak pengamat skeptis bahwa stablecoin dapat dianggap sebagai alternatif kripto yang sangat volatil.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen pun memberikan peringatan akan dampak kasus anjloknya harga token Terra LUNA dan UST. Dia menuturkan kejadian itu membuktikan potensi ancaman pada stabilitas keuangan yang ditimbulkan oleh pasar kripto yang tidak diatur.

"Stablecoin yang dikenal sebagai TerraUSD mengalami penurunan nilainya. Saya pikir itu hanya menggambarkan ini adalah produk yang berkembang pesat dan ada risiko pada stabilitas keuangan dan kami membutuhkan kerangka kerja yang sesuai," kata Yellen dalam sidang Komite Perbankan Senat, dikutip dari Market Watch, Kamis (12/5/2022) kemarin.

Meski begitu, Menteri Keuangan AS, Janet Yellen mengatakan kejatuhan stablecoin UST belum menimbulkan risiko sistemik pada sistem keuangan di AS.

"Saya tidak akan menggolongkannya pada skala ini sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas keuangan, tetapi mereka tumbuh sangat cepat dan mereka menghadirkan jenis risiko yang sama yang telah kita ketahui selama berabad-abad sehubungan dengan kasus penarikan dana besar-besaran," katanya pada saat Sidang Komite Jasa Keuangan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saat Pasar Kripto Loyo, Pegang Token Ini Bisa Cuan 30% Lho!


Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading