Emas Turun Sepekan, Gimana Nasibnya ke Depan?

Market - adf, CNBC Indonesia
14 May 2022 13:30
FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas terus berada dalam tren penurunan dan bahkan menyentuh rekor terendah dalam tiga bulan lebih.

Pada perdagangan Jumat (13/5/2022), harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.811,15 per troy ons.

Level harga tersebut adalah yang terendah sejak 4 Februari 2022 yakni US$ 1.807,49 per troy ons atau lebih dari tiga bulan terakhir. Dalam sepekan, harga emas sudah terkoreksi 3,81% secara point to point.


Sementara, dalam sebulan harga si logam kuning sudah turun 8,23%. Memang, sejak menyentuh level US$ 2.052,41 per troy ons pada 8 Maret 2022, harga emas cenderung 'menuruni bukit'.

Kembali melemahnya emas dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv, Indeks dolar AS berada di 104,46 pada Jumat, masih mendekati rekor tertingginya sejak dua dasawarsa yang berada di kisaran 104,49.

Kinerja Harga Emas di Pasar SpotFoto: Refinitiv
Kinerja Harga Emas di Pasar Spot

"Dolar menguat dan pasar juga khawatir bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga secara agresif. Ini akan terus memukul harga emas," tutur Bart, seperti dikutip dari Reuters.

Penguatan dollar AS dipicu oleh ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 50 bps pada Juni mendatang menyusul masih tingginya inflasi di AS pada April. Negara Paman Sam mencatatkan inflasi sebesar 8,3% (year on year/YoY) di bulan April. Meskipun lebih rendah dibandingkan Maret (8,5%) tetapi masih jauh di atas target The Fed yang ada di kisaran 2%.

"Penguatan dollar AS membuat emas ada dalam zona bahaya. Jika emas anjlok ke level US$ 1.800 harganya bisa terus anjlok hingga ke kisaran US$ 1.750. Emas sulit menawarkan daya tarik selama pergerakan dollar AS sangat kuat," tutur Edward Moya, analis dari OANDA.

Moya menambahkan ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan The Fed dan kondisi pasar yang tengah risk off menyulitkan emas untuk melaju apalagi menembus level US$ 1.900.

Sementara, Ravindra Rao dari Kotak Securities, mengingatkan emas masih berpotensi naik jika kekhawatiran akan memburuknya ekonomi global terus menguat. Emas sebagai aset aman akan menjadi pilihan orang di saat ekonomi memburuk.

Namun, dia juga menegaskan bahwa jika pergerakan harga emas masih akan sangat ditentukan oleh dolar AS.

"Harga emas kemungkinan tidak akan melonjak tajam kecuali dolar AS melemah drastis," tutur Ravindra seperti dikutip dari livemint.com.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Setelah Anjlok Harga Emas 'Mager', Gimana ke Depan?


(adf/luc)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading