Dolar AS Sentuh Rekor Baru, Cadev Turun.. Rupiah Makin Apes!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
13 May 2022 11:55
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah bergerak stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di sesi awal perdagangan hari ini, Jumat (13/5/2022). Namun kemudian rupiah terkoreksi hingga pertengahan hari ini.

Indeks dolar AS kembali menyentuh rekor tertingginya sejak 20 tahun dan kembali menekan Mata Uang Garuda.

Melansir data dari Refinitiv, Mata Uang Tanah Air di sesi awal perdagangan bergerak stagnan di Rp 14.595/US$. Kemudian, rupiah kembali terkoreksi sebanyak 0,14% ke Rp 14.616/US$ hingga pukul 11:00 WIB.


Indeks dolar AS kembali mencetak rekor pada Kamis (12/5) dan berakhir di level 104,85 yang menjadi level tertinggi sejak Desember 2002. Di sepanjang pekan ini, indeks dolar AS telah menguat 1% terhadap 6 mata uang dunia.

Tidak heran, rupiah pun tertekan hingga menyentuh level terendahnya sejak November 2020.

Baru-baru ini rupiah terpuruk karena bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Kamis (5/5) dini hari waktu Indonesia, serta berencana akan mengurangi nilai neracanya. 

Tidak hanya itu, kemarin, Ketua The Fed Jerome Powell kembali memberikan pernyataan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setengah poin persentase atau 50 basis poin pada masing-masing dari dua pertemuan berikutnya dan berjanji bahwa The Fed siap untuk menaikkan lebih banyak lagi jika data berubah ke arah yang salah.

Dia juga menilai bahwa pertempuran The Fed untuk mengendalikan inflasi akan tetap menyebabkan rasa sakit di pasar karena dampak dari suku bunga acuan yang lebih tinggi. Hal tersebut, sontak saja membuat indeks dolar AS pun menguat dan kembali mencetak rekor terbarunya kemarin.

Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) hari ini telah mengumumkan cadangan devisa April 2022 yang turun US$ 3,4 miliar jika dibandingkan dengan periode Maret 2022 dan berakhir di US$ 135,7 miliar.

"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2022 tetap tinggi sebesar US$ 135,7 miliar, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret 2022 sebesar US$ 139,1 miliar. Penurunan posisi cadangan devisa pada April 2022 antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan antisipasi kebutuhan likuiditas valas sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian," sebut keterangan tertulis BI.

Data ekonomi yang terbilang kurang baik dari dalam negeri, tentunya dapat membebani performa rupiah, ditambah lagi indeks dolar AS yang memang sedang kuat-kuatnya, sehingga menambah hambatan untuk membuat rupiah menguat hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Hawkish The Fed Mampu Jinakkan Inflasi?


(aaf/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading