Bursa Asia Bangkit Lagi, Nikkei-Hang Seng Melesat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
13 May 2022 08:39
A man paues in front of an electric screen showing Japan's Nikkei share average outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 5, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka menghijau pada perdagangan Jumat (13/5/2022), setelah sehari sebelumnya sempat ambles lagi meski bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali berjatuhan pada Kamis kemarin waktu AS.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,6%, Hang Seng Hong Kong melonjak 1,63%, Shanghai Composite China melaju 0,63%, Straits Times Singapura melompat 1,15%, ASX 200 bertambah 0,46%, dan KOSPI Korea Selatan melesat 0,8%.

Dari Jepang, saham konglomerat Softbank Group melompat lebih dari 2%, meskipun pada Kamis kemarin melaporkan rekor kerugiannya pada unit investasi Vision Fund.


Kekhawatiran atas inflasi dan prospek ekonomi telah membebani sentimen investor global dalam beberapa hari terakhir dan hal ini turut menjadi pemberat bursa Asia-Pasifik pada pekan ini.

Cenderung bangkitnya kembali bursa Asia-Pasifik pada hari ini terjadi di tengah masih terkoreksinya sebagian besar indeks utama di bursa AS, Wall Street kemarin, meski koreksinya sudah jauh terpangkas.

Indeks Dow Jones ditutup melemah 0,33% ke level 31.730,3 dan S&P 500 turun 0,13% ke 3.930,08. Namun untuk indeks Nasdaq Composite berhasil menguat meski tipis-tipis yakni sebesar 0,06% ke posisi 11.370,96.

"Saham dijual di seluruh penjuru dunia, dan nada pasar semakin suram," kata Adam Crisafulli Vital Knowledge dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Indeks S&P 500 anjlok lebih dari 18% dari rekor tertingginya dan merosot 17% sejak awal tahun ini. Nasdaq jatuh mendekati 30% dari level tertingginya. Situasi koreksi lebih dari 20% dari level tertinggi dalam 1 tahun terakhir bisa dikategorikan sebagai situasi pasar yang bearish.

Sebelumnya pada Kamis kemarin, indeks harga produsen (producer price index/PPI) April, yang menunjukkan harga barang di tingkat grosir AS, melonjak 11% secara tahunan. Angka itu memang lebih rendah dari posisi Maret, tetapi lebih buruk dari ekspektasi pelaku pasar.

Hal ini kembali memicu kekhawatiran bahwa inflasi tinggi belum akan berakhir. Data inflasi pada Rabu lalu dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) April berada di 8,3%, yang lebih buruk dari ekspektasi dan masih berada di dekat rekor tertingginya sejak 40 tahun di 8,5%.

Wall Street merupakan bursa saham acuan global. Apa yang terjadi di Bursa New York berpeluang menjangkiti pasar keuangan global.

Maklum, AS merupakan negara super power dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia dan memiliki mata uang reserves currency yang digunakan untuk berbagai kebutuhan transaksi.

Inflasi yang tinggi di AS memang menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi akan kembali jatuh ke dalam jurang resesi. Beberapa leading indicator seperti pembalikan kurva imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) semakin membuat pasar panik.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya membuat pasar panik. Aset berisiko seperti saham dan kripto pun dilanda tekanan jual yang tinggi.

Di pasar kripto, koin digital (token) terbesar yakni Bitcoin sempat anjlok ke bawah kisaran level US$ 27.000 kemarin, karena kekhawatiran terhadap inflasi dan runtuhnya Terra yang kontroversial. Perusahaan teknologi dengan kepemilikan Bitcoin, turun di perdagangan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Kebakaran! Ada yang Ambles 3%, IHSG Gimana?


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading