Review

Pasar Modal Karam, Harta Taipan RI Ikut Tenggelam

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
13 May 2022 08:35
Jerry Ng, CEO of Bank Tabungan Pensiunan Negara speaks in an interview in Jakarta May 11, 2011. Ng said the bank's loan growth was seen at over 25 percent this year, just over the industry average, but a slowdown from 48 percent growth last year as competition heats up. Picture taken May 11, 2011. REUTERS/Enny Nuraheni (INDONESIA - Tags: BUSINESS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasca-libur panjang lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara konsisten empat hari beruntun berakhir di zona merah. Pelemahan ini tidak hanya spesifik terjadi di Indonesia, melainkan juga menekan pasar keuangan global lain baik di Asia hingga ke Wall Street. Tekanan ini salah satunya dikarenakan pasar yang mulai 'berjabat tangan' dengan lingkungan suku bunga tinggi yang mulai diterapkan bank sentral utama dunia untuk menjinakkan inflasi yang meroket.

Pada hari pertama perdagangan pekan ini, IHSG anjlok lebih dari 4%. Sehari kemudian koreksi yang terjadi mulai melambat dengan ditutup turun 1,30% pada hari Selasa (10/3) dan Rabu lalu sempat lama bertengger di zona merah, sebelum tiba-tiba menukik tajam jelang akhir perdagangan dan ditutup terkoreksi tipis 0,05%.

Kamis (12/5) kemarin laju pelemahan IHSG malah kembali meningkat dengan koreksi signifikan mencapai 3,17%. Sejak awal dibuka bergerak di zona merah, IHSG terlempar dari level psikologis 6.800 dan 6.700 hingga akhirnya ditutup di level 6.599,84.


Artinya sejak perdagangan terakhir sebelum libur panjang hingga kemarin, IHSG terkoreksi hingga 8,70% dalam kurung waktu empat hari saja. Asing yang sejak awal tahun rajin 'menabung' di pasar domestik, terlihat mulai melego saham-sahamnya blue chip kapitalisasi besar yang semula sangat disenangi.

Saham-saham yang melemah dan perlahan mulai dilepas asing tersebut termasuk yang dimiliki oleh para taipan RI, yang pada akhirnya tentu membuat kekayaan mereka dari kepemilikan saham susut.

Berikut daftar beberapa taipan yang kekayaannya tergerus pada perdagangan hari ini.

Keluarga Hartono

Kekayaan keluarga Hartono dari kepemilikan saham di Bank BCA (BBCA) ditaksir lenyap nyaris Rp 60 triliun akibat perdagangan buruk pekan ini. Bank BCA yang merupakan emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sahamnya telah terkoreksi 10,46% atau kapitalisasi pasarnya menguap Rp 104,76 triliun selama empat hari terakhir perdagangan.

Keluarga Hartono yang merupakan pemilik dari PT Dwimuria Investama Andalan yang merupakan pengendali BCA dengan kepemilikan 55,94% mengalami penyusutan kekayaan mencapai Rp 58,61 triliun.

Tidak hanya BBCA, emiten Grup Djarum lainnya yang dikendalikan keluarga Hartono juga bernasib serupa dengan Sarana Menara Nusantara (TOWR) dan Supra Boga Lestari (RANC) masing-masing telah terkoreksi 3,46% dan 12,78% pekan ini.

Keluarga Sariaatmadja

Konglomerat media yang mulai merambah ke sektor teknologi, Eddy Kusnadi Sariaatmadja, juga menyaksikan kekayaannya menguap pada perdagangan pekan ini. Saham Elang Mahkota Teknologi (EMTK) sempat ditutup ARB pekan ini kapitalisasi pasar berkurang Rp 36,72 triliun, setelah dalam empat hari sahamnya ambrol lebih dari 20%.

Artinya Eddy yang menggenggam langsung 23% saham EMTK hartanya berkurang Rp 8,45 triliun dari kinerja buruk saham EMTK.

Sejatinya pengurangan kekayaan keluarga Sariaatmadja jauh lebih besar lagi, mengingat emiten lainnya yang tergabung dalam grup Emtek juga mengalami pelemahan signifikan. Saham SCMA pekan ini telah melemah 7,87%, adapun saham Bukalapak.com (BUKA) tertekan 24,08%, turun ke harga Rp 290/saham. Sedangkan emiten RS yang dikendalikan Grup Emtek, SAME, masih melemah lebih dari 17% selama empat hari terakhir.

Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya

Emiten investasi milik Menteri Pariwisata RI Sandiaga Uno dan rekan bisnisnya Edwin Soeryadjaya, Saratoga Investama Sedaya (SRTG) telah melemah 12,08% pekan ini atau kapitalisasi pasarnya lenyap Rp 5,96 triliun pada perdagangan pekan ini. Sementara itu emiten tambang yang dikendalikan Grup Saratoga yaitu Merdeka Copper Gold (MDKA) melemah 13,21% atau kapitalisasi pasarnya menguap Rp 16,88 triliun.

Saratoga diketahui menguasai 17,38% saham MDKA, sedangkan Sandiaga Uno dan Edwin masing-masing diketahui memiliki 21,51% (2,92 miliar) dan 33,10% (4,49 miliar) saham SRTG. Artinya dari SRTG saja, kekayaan Sandiaga pekan ini menguap sekitar Rp 1,28 triliun, sedangkan tambahan kerugian mengambang dari MDKA ditaksir mencapai Rp 625 miliar. Artinya dalam empat hari, kekayaan Pak Menteri susut nyaris Rp 2 triliun.

Sementara itu, transaksi di kedua saham tersebut ikut membuat harta Edwin berkurang sekitar Rp 2,94 triliun.

Boy Thohir

Taipan pertambangan RI Garibaldi 'Boy' Thohir juga mengalami nasib serupa. Pelemahan ini terjadi di semua segmen portofolio bisnisnya, yang kini telah mencakup perusahaan teknologi.

Adaro Minerals yang mengalami reli gila-gilaan sejak awal tahun hari ini mengalami ARB pada perdagangan Kamis (11/5) lalu. Secara kumulatif sejak pasar kembali dibuka, saham ADMR telah melemah 16,48% dengan kapitalisasi pasar berkurang Rp 18,39 triliun. Selanjutnya saham Adaro Energy (ADRO) juga melemah 5,68% pekan ini.

Menurut catatan CNBC Indonesia, sebelum IPO Boy Thohir secara tidak langsung menggenggam sekitar 8,25% saham ADMR, dan setelah melepas 15% saham baru ketika IPO, angkanya terdilusi menjadi 7,01%.

Dengan asumsi kepemilikan saham Boy Thohir di ADMR tidak berubah, transaksi perdagangan pekan ini di ADMR memberikan kerugian mengambang sekitar Rp 1,29 triliun bagi kakak dari Menteri BUMN RI.

Sementara itu saham di GOTO yang juga dimilikinya - meski angkanya tidak signifikan - pekan ini telah terkoreksi 23,52%.

Sedangkan dua saham yang dimiliki secara langsung oleh Boy Thohir yakni Trimegah Sekuritas Indonesia (TRIM) dan MDKA masing-masing telah melemah 13,33% dan 13,21.

Dari MDKA yang sahamnya dimiliki secara langsung sebesar 8,34%, kekayaan Boy Thohir ditaksir kembali menguap sekitar Rp 1,41 triliun.

Jerry Ng

Jerry Ng yang merupakan bankir senior Tanah Air masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia setelah saham emiten bank mini yang diakuisisi dan disulap jadi bank digital harganya terbang meroket dalam dua tahun terakhir.

Bank Jago (ARTO) yang juga disokong oleh konsorsium GOTO dan dana abadi Singapura GIC mulai menunjukkan tren pelemahan awal tahun ini. Sejak awal tahun ini kapitalisasi pasar ARTO telah terpangkas lebih dari 45%, secara spesifik pekan ini saja pelemahan yang terjadi di emiten bank digital tersebut nyaris 25%.

Jerry Ng yang memiliki saham di Bank Jago lewat PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) sebesar 29,80% tentu pundi-pundinya ikut tergerus akibat kondisi pasar yang masih tertekan dalam.

Dalam sepekan akibat koreksi harga yang nyaris seperempat, kapitalisasi pasar ARTO menguap hingga Rp 40,17 triliun. Artinya harta kongsi Jerry Ng di MEI susut sekitar Rp 11,77 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Batu Bara Menggila, Harta Kiki Barki Menggunung


(fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading