Punya Cadangan Batu Bara Jumbo, Saham IATA Terbang 20%

Market - vap, CNBC Indonesia
11 May 2022 14:35
Gedung MNC (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) terbang 20,2% ke level Rp 238 per unit pada pukul 14.20 WIB, merespons positif dari kabar terkait cadangan batu bara perseroan. 

Setidaknya hingga siang hari ini, harga saham IATA terpantau sempat menyentuh level tertingginya hari ini di Rp 242 per unit. Dengan demikian, saham IATA melanjutkan tren kenaikan setelah pada Selasa (10/5/2022), saham IATA ditutup melonjak 5,32% ke level Rp 198 per unit. 

Pada Senin lalu (9/5/2022), Laporan Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI) atas salah satu Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang baru saja diakuisisi oleh PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), PT Arthaco Prima Energy (APE) menemukan cadangan 20,58 juta metrik ton dengan GAR 3.250 kg/kcal pada pengeboran Tahap 1 di lahan seluas 380 Ha, dari total area cadangan saat ini 2.059 Ha.


Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis Senin (9/5/2022), sumber daya batu bara Tahap 1 mencapai 138,85 juta metrik ton. 

Menggunakan harga batu bara HBA rata-rata dari tahun 2000 sampai dengan April 2022, kegiatan penambangan APE akan menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar US$ 56,6 juta, dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 56,5%, Break Even Point (BEP) sebesar 5,2 juta MT dan Payback Period pada 1,87 tahun.

"Tentunya jika harga batu bara bertahan seperti sekarang, NPV di atas akan meningkat hingga lebih dari dua kali lipat," ungkap manajemen. 

Temuan cadangan dan sumber daya masih akan terus bertambah karena pengeboran Tahap 1 yang dilakukan hanya kurang dari 20% area IUP PT Arthaco Prima Energy (APE) yang dapat ditambang.

Selanjutnya, pengeboran Tahap 2 dan Tahap 3 rencananya akan selesai pada kuartal ini. APE telah memiliki IUP Operasi Produksi dengan luas 15.000 Ha di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.

Lokasi tambang APE hanya 12,5 km dari sungai dan sekitar 108 km ke area transhipment di pelabuhan Tanjung Buyut. APE direncanakan memulai produksi pada kuartal IV-2022.

Dengan tambahan laporan KCMI ini, cadangan batu bara terbukti dari 9 IUP yang dimiliki oleh IATA naik menjadi 158,68 juta dari sebelumnya 138,1 juta MT.

Angka tersebut belum memperhitungkan tambahan cadangan dari IUP APE yang lebih dari 80% lahannya belum dilakukan pengeboran, dan dari IUP PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE), PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal - South (BSPC-S), PT Putra Mandiri Coal (PUMCO), PT Primaraya Energi (PE), PT Titan Prawira Sriwijaya (TPS), PT Sriwijaya Energi Persada (SEP), serta PT Energi Inti Bara Pratama (EIBP) yang sama sekali belum dilakukan pengeboran.

Kegiatan pengeboran akan terus dilanjutkan dan cadangan akan terus bertambah jika hasil eksplorasi menunjukkan temuan batu bara. Manajemen memperkirakan cadangan batu bara untuk semua IUP mencapai minimal 600 juta MT.  


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Keluar Dari Zona Merah, Saham ADCP Akhirnya Meroket 14%


(vap/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading