Masih Lesu! Laba Indocement (INTP) di Q1 Terpangkas Setengah

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
10 May 2022 11:40
Sayup suara ombak menyusup hingga ke ruang-ruang sempit Kapal yang tengah bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Rabu (29/7/2020) petang itu. Sejumlah anak dengan berani tengah asik melompat bergantian dari atas kapal, sambil berteriak.
Sunda Kelapa adalah nama pelabuhan yang berada di ujung utara Jakarta. Pelabuhan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Pada zaman kerajaan, Sunda Kelapa adalah pusat perdagangan. Kini, meski telah dimakan usia, pelabuhan ini masih tetap ramai.
Banyak orang mengais rezeki di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada pedagang, nelayan, Anak Buah Kapal (ABK), pemberi jasa sampan, hingga buruh angkut. Semua tumpah ruah menjadi satu. Namun bagi anak-anak sunda kelapa adalah tempat paling asik untuk bermain.

Pelabuhan Sunda Kelapa lambat laun tidak terlihat sesibuk saat masa jayanya. Kini, pelabuhan tersebut dikelola oleh PT Pelindo II dan tidak mengantongi sertifikasi International Ship and Port Security karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk melayani kapal antar pulau di dalam negeri.

Dari sisi ekonomi pelabuhan ini masih cukup strategis, mengingat berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan di Jakarta seperti Glodok, Pasar Pagi, Mangga Dua, dan lain-lainnya. Menjadi buruh kuli angkut mungkin bukan hal yang dicita-citakn oleh banyak orang. Namun ketika tidak ada lagi keahlian yang bisa ditawarkan selain tenaga kasar maka menjadi buruh kasar sebagai kuli angkut pun harus dijalani.

Setidaknya ini yang tertangkap saat melihat potret para kuli angkut di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta Utara. Dalam sehari para pekerja kuli angkut ini mampu membongkar muatan dengan berat total 300ton. Beban sebesar ini dikerjakan oleh 20an orang pekerja.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja keuangan produsen semen yang dikendalikan oleh Birchwood Omnia Ltd, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP), pada kuartal I-2022 kurang memuaskan. Laba bersih perusahaan semen yang pernah dimilik Salim Grup ini, tergerus nyaris setengah dibanding perolehan periode yang sama tahun lalu. 

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, laba Indocement anjlok hingga 48,08% menjadi Rp 182,55 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, laba Indocement tercatat sebesar Rp 351,32 miliar. 


Salah satu faktor yang membuat laba Indocement drop adalah kenaikan beban pokok penjualan sebesar 11,07% menjadi Rp 2,59 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, pos ini tercatat sebesar Rp 2,34 triliun. 

Sementara itu, penjualan perseroan pada periode tersebut tercatat senilai Rp 2,59 triliun. Angka penjualan Indocement ini hanya naik 3,48% dari penjualan kuartal I-2022 sebesar Rp 3,44 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Industri Semen Belum Pulih, Tengok Laba Indocement Drop


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading