Makin Terjun Bebas, IHSG Ambles 3,11% Jelang Inflasi dan PDB

Market - Putra, CNBC Indonesia
09 May 2022 09:29
Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta,CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka ambruk signifikan lebih dari 3% ke level terendahnya 7.013,69 pada perdagangan perdana bulan Mei pasca libur panjang Lebaran.

Pada pukul 09.25 WIB, IHSG terpantau makin anjlok 224,637 poin atau 3,11% di 7.004,277.

Asing net sell jumbo senilai Rp 434,88 miliar pagi ini. Saham UNVR dan UNTR menjadi dua saham paling banyak diborong asing dengan net buy Rp 56 miliar dan Rp 43 miliar.

Sedangkan saham BBRI dan BBNI dilego asing dengan nilai mencapai Rp 164 miliar dan Rp 154 miliar.

Pelaku pasar akan mencermati data ekonomi yang dirilis hari ini, yakni inflasi April dan PDB. 

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi April 2022 bisa mencapai 0,85% secara bulanan (month-to-month/mtm). Jika terwujud, maka akan menjadi rekor tertinggi sejak Januari 2017.

Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi April 2022 diperkirakan 3,4%. Ini akan menjadi yang tertinggi sejak April 2018.

Sementara itu, BI memperkirakan inflasi April 2022 secara tahun kalender sebesar 1,95% (ytd), dan secara tahunan sebesar 3,26% (yoy).

Penyumbang utama inflasi April 2022 sampai dengan minggu III yaitu komoditas minyak goreng sebesar 0,26% (mtm), bensin sebesar 0,18% (mtm), daging ayam ras sebesar 0,08% (mtm), bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04% (mtm), telur ayam ras, sabun detergen bubuk/cair dan jeruk masing-masing sebesar 0,02% (mtm), daging sapi, bawang putih, tempe, bayam, kangkung, nasi dengan lauk, ayam goreng, rokok kretek dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm).

Sementara itu, komoditas yang mengalami deflasi pada periode minggu ini yaitu tomat dan cabai rawit masing - masing sebesar -0,02% (mtm) dan -0,01% (mtm).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Ibu Pertiwi tumbuh 5,05% yoy pada kuartal I-2022. Lebih baik ketimbang kuartal IV-2021 (5,02%) dan kuartal I-2021 (-0,7%).

Pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan menjadi motor utama penggerak perekonomian nasional. Ya, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang mengendurkan PPKM seiring melandainya kasus positif harian Covid-19.

Pelonggaran PPKM membuat permintaan melonjak, karena masyarakat lebih bebas beraktivitas. Tidak hanya itu, aktivitas industri juga meningkat karena pembatasan aktivitas dan mobilitas sudah semakin minim.

"Pemulihan permintaan domestik berlanjut pada kuartal I-2022, seiring peningkatan mobilitas masyarakat karena pelonggaran PPKM dan cakupan vaksinasi yang makin luas. Memang sempat ada pengetatan PPKM pada Februari akibat lonjakan kasus positif harian akibat penyebaran varian Omicron, tetapi dampaknya terbatas.

"Tidak hanya domestik, permintaan eksternal pun solid, terlihat dari data ekspor. Kami memperkirakan ekspor kembali tumbuh dua digit," sebut Faisal Rachman, Ekonom Bank Mandiri, dalam risetnya.

Sebenarnya dari sisi data tidak ada yang terlalu perlu dikhawatirkan. Kemungkinan surprise yang terlalu mencolok juga kecil. Namun yang patut diwaspadai adalah kemungkinan fase lag setelah libur panjang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pasca libur Lebaran, IHSG Rontok 4,42% ke Bawah 7.000


(trp/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading