Akhirnya Harga Perak Bangkit, Tren Turun 9 Hari Beruntun Usai

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
04 May 2022 17:46
Ilustrasi Perak (Image by Walter Freudling from Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia terpantau menguat pada perdagangan sore hari ini. Ini jadi pertama kalinya harga perak berada di area hijau setelah selama sembilan hari turun beruntun.

Pada Rabu (4/5/2022) pukul 17.15 WIB, harga perak dunia tercatat US$ 22,61/ounce, naik 0,25% dibandingkan harga penutupan kemarin.


Investor memanfaatkan momentum untuk membeli perak di harga murah saat ini. Sebelumnya, perak telah jatuh selama sembilan hari beruntun dan mencatatkan pelemahan sebesar 10,5% point-to-point (ptp). Tren bearish tersebut juga menempatkan harga aset safe haven berada di level terendah sejak Februari 2022.

Meskipun konflik antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih kuat menekan laju harga perak. Kondisi ini membuat harga perak terus melemah.

Para pelaku pasar sedang menunggu hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve yang akan segera dirilis. Bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Pasar memperkirakan kenaikan yang agresif karena mencoba menjinakkan inflasi yang cepat.

Mengutip CME FedWatch, pasar "bertaruh" suku bunga acuan akan dinaikkan 50 basis poin (bps) menjadi 0,75%-1%. Kemungkinannya mencapai 99,3%.

"Pasar mengantisipasi The Fed tidak mundur dari posisi [stance] yang hawkish ini. Bahkan ke depan bukan tidak mungkin ada kejutan lain. Ini yang membuat dolar dalam posisi yang sangat kuat," kata Edward Moya, Analis Senior OANDA, seperti dikutip dari Reuters.

(yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) tercatat 103,412, berada di area harga tertinggi sejak 2002.

Kenaikan suku bunga acuan akan membuat aset-aset berbasis dolar AS, terutama logam mulia seperti perak menjadi kurang menarik. Saat dolar AS menguat maka perak jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan perak turun, harga pun terkoreksi.

Begitu juga imbal hasil alias yield surat utang pemerintah AS sempat mencapai 3%, tertinggi sejak 2018.

Kenaikan yield juga sejatinya merupakan kabar buruk buat perak. Pasalnya, perak adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Saat memegang perak, opportunity cost naik dibandingkan dengan memiliki obligasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Dunia III Bubar, Harga Perak Loyo


(ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading