Sempat Terpuruk, Harga Batu Bara Bangkit & Terbang 6%

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
04 May 2022 09:50
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara langsung melonjak drastis setelah sepekan lalu hancur lebur. Kemarin (3/5), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak Juni ditutup di US$ 312,60/ton. Melonjak 5,89% dibandingkan hari sebelumnya.

Kenaikan harga batu bara kemarin menutup periode buruk sang emas hitam selama sepekan sebelumnya. Selama tujuh hari perdagangan dari 22 April hingga 2 Mei 2022, harga batu bara ambrol 17,5%.

Kenaikan pada Selasa (3/5) juga mengembalikan harga batu bara ke level US$ 300 per ton. Harga sang emas hitam sempat terjerembab ke bawah level US$ 300 per ton pada perdagangan Jumat (29/4) dan Senin (2/5).


Dalam sepekan, harga batu bara turun tipis 0,73%. Meski begitu, harga batu bara masih membukukan kenaikan 20,85% secara point-to-point dalam sebulan. Selama setahun terakhir, harga melesat 240,71%%.

Kenaikan harga batu bara disebabkan sejumlah faktor mulai dari bargain buying hingga persoalan pasokan di sejumlah negara mulai dari Afrika Selatan, India, hingga Polandia.

Aksi bargain buying dilakukan setelah harga batu bara rontok selama sepekan sebelumnya sehingga menjadi kesempatan bagi pembeli untuk melakukan transaksi di harga lebih murah.

Di India, sejumlah pembangkit listrik batu bara tengah dihadapkan pada persoalan pasokan. India tengah dilanda gelombang hawa panas yang membuat permintaan alat pendingin meningkat sehingga konsumsi listrik juga melonjak. Departemen Meteorologi India (IMD) mencatat suhu maksimum rata-rata di barat laut India mencapai 35,9 celcius sepanjang April lalu. Suhu di bagian utara India bahkan mencapai 37.78 derajat celcius.

Konsumsi listrik yang melonjak membuat persediaan batu bara di pembangkit India menipis dari seharusnya 24 hari. Untuk memenuhi pasokan, pemerintah India bahkan sampai membatalkan lebih dari 650 kereta penumpang hingga akhir Mei. Pembatalan kereta dilakukan karena pemerintah tengah memprioritaskan kereta kargo untuk mengisi kembali stok batu bara di pembangkit listrik mereka.

"Musim semi di India lebih dingin dibandingkan tahun sebelumnya tetapi suhu dengan cepat secara drastis. Tiba-tiba permintaan naik dan persediaan batu bara mulai menipis lebih cepat dibandingkan perkiraan. Kondisi ini menimbulkan kepanikan karena pasokan bisa habis dalam waktu cepat," tutur Vibhuti Garg, ahli energi du Institut Ekonomi Energi dan Analisa Keuangan, kepada VOA.

 

Kekurangan pasokan ini bisa meningkatkan impor batu bara India. Padahal, harga batu bara masih mahal. Permintaan batu bara di India kemungkinan bisa baru turun dalam beberapa bulan ke depan, jika gelombang panas mereda di Juli atau Agustus.

Sementara itu, produsen batu bara di Afrika Selatan terpaksa memperbanyak pengangkutan batu bara dengan menggunakan truk karena rusaknya jalur kereta.

Jalur kereta untuk pengangkutan batu bara di Afrika Selatan rusak parah karena minimnya perawatan dan investasi, aksi vandalisme serta aksi pencurian prasarana rel. Rusaknya rel tidak hanya membuat Afrika Selatan kehilangan miliaran dollar karena tidak sanggup memenuhi permintaan. Juga, membuat harga batu bara Afrika Selatan mahal.

Mengangkut batu bara menggunakan truk memakan ongkos empat kali lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan kereta. Penambang batu bara menggunakan 400 truk per hari untuk mengangut 6 juta ton batu bara setahun.

"Jumlah truk makin meningkat dan ini bukaanlah situasi yang bagus," tutur Sizakele Mzimela, Chief Executive dari Transnet Freight Rail kepada Reuters.

Dari Polandia, perusahaan pertambangan Polandia Jastrzebska Spolka Weglowa (JSW) te;ah mendeklrasikan force majeure karena persoalan pasokan setelah kecelakaan di pertambangan Pniowek dan Zofiowka bulan lalu.

Produksi JSW kemungkinan akan berkurang 400.000 ton. Tahun lalu, JSW memproduksi 11 juta ton batu bara. Berkurangnya produksi batu bara JSW menjadi kabar buruk bagi Polandia dan negara tetangga Polandia yang selama ini menggantungkan batu bara dari JSW.
Pasokan batu bara di pertambangan Polandia turun menjadi 176.000 ton pada ahir Februari 2022 dari 750.000 ton batu bara di akhir tahun lalu.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kembali On Fire, Harga Batu Bara Naik 2,4%


(mae/mae)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading