Tak Cuma Dolar AS, Dolar Australia Juga Ikutan Ngamuk!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 May 2022 13:30
An Australia Dollar note is seen in this illustration photo June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration

Jakartal, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) memang sedang kuat-kuatnya, sebab bank sentralnya (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga dengan agresif pada Kamis (5/5/2022) dini hari waktu Indonesia. Alhasil, indeks dolar AS pada pekan lalu menyentuh level 103,928 yang merupakan level tertinggi dalam nyaris 20 tahun terakhir.

Indeks tersebut merupakan tolak ukur kekuatan dolar AS dan dibentuk dari enam mata uang, euro menjadi kontributor terbesar yakni 57,6%. Mata uang lainnya yakni yen, poundsterling, dolar Kanada, franc Swiss, dan krona Swedia.

Meski sedang kuat-kuatnya, tetapi dolar AS justru keok melawan dolar Australia pada perdagangan Selasa (3/5/2022). Siang ini dolar Australia melesat 1,4% melawan dolar AS ke US$ 0,7147. Sementara melawan rupiah, dolar Australia juga naik 1,4% ke Rp 10.359/AU$.


Melesatnya dolar Australia tersebut tidak lepas dari kebijakan bank sentralnya (Reserve Bank of Australia/RBA) yang menaikkan suku bunga pada hari ini.

Keputusan RBA hari ini menunjukkan bagaimana cepatnya perubahan sikap bank sentral yang membuat dolar Australia mengamuk.

Di awal tahun ini, Gubernur RBA Philip Lowe masih menutup rapat peluang kenaikan suku bunga di 2022. Tetapi nyatanya, belum sampai pertengahan tahun, RBA sudah menaikkan suku bunga, bahkan lebih tinggi dari prediksi ekonom.

Dalam pengumuman kebijakan moneter hari ini, RBA menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,35% dari rekor terendah sepanjang masa 0,1%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak November 2010.

Hasil survei dari Reuters yang dilakukan pada 27 - 29 April terhadap 32 ekonom menunjukkan mayoritas memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 15 basis poin menjadi 0,25% dari saat ini 0,1% yang merupakan rekor terendah sepanjang sejarah.

Selain itu, survei tersebut menunjukkan RBA akan diperkirakan agresif dalam menaikkan suku bunga. Sebanyak 23 dari 32 ekonom memperkirakan di bulan Juni, suku bunga diperkirakan akan kembali dinaikkan menjadi 0,5%, 4 ekonom bahkan memprediksi suku bunga menjadi 0,75%.

RBA kini mengikuti langkah The Fed menormalisasi kebijakannya, sehingga tidak menutup kemungkinan dolar Australia akan terus menanjak melawan dolar AS dan rupiah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Omicron Meneror Australia, Dolarnya Lesu Lawan Rupiah


(pap/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading