Jelang Pengumuman The Fed, Wall Street Dibuka Melemah

Market - Putra, CNBC Indonesia
02 May 2022 22:05
FILE - In this Oct. 14, 2020 file photo, the American Flag hangs outside the New York Stock Exchange in New York.Stocks were posting strong gains in early trading Thursday, May 13, 2021, following three days of losses and the biggest one-day drop in the S&P 500 since February.  (AP Photo/Frank Franklin II, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Wall Street dibuka melemah di awal Mei menyusul kejatuhan bursa saham Eropa.

Indeks Dow Jones Industrial terpantau melemah 0,5%. Sementara itu indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing terkoreksi 0,7% dan 0,8%.

Saham-saham teknologi kembali tertekan seiring dengan semakin dekatnya pengumuman kebijakan moneter yang akan disampaikan oleh bank sentral AS The Fed pekan ini.


Dalam pertemuan sebelumnya, The Fed mensinyalkan kemungkinan kebijakan pengetatan yang lebih agresif.

The Fed akan memulai pembahasan tentang kebijakan kontraksi neracanya (balance sheet). Selain itu, dalam berbagai kesempatan, bos bank sentral paling powerful di dunia, Jerome Powell, juga menyampaikan kenaikan suku bunga yang lebih agresif mungkin akan dilakukan dalam waktu dekat.

Kebijakan tersebut menyusul tingkat inflasi di Paman Sam yang sudah mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Mengacu pada data CME FedWatch Tools, saat ini pelaku pasar mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) di bulan Mei.

The Fed diekspektasikan bakal menaikkan suku bunga acuan 6x tahun ini dan membawa suku bunga acuan Federal Fund Rates berada di kisaran 300-325 bps akhir tahun ini.

Pasar pun merespons adanya wacana tersebut. Yield surat utang pemerintah AS 10 tahun yang menjadi acuan saat ini diperdagangkan di kisaran level tertingginya dalam 3 tahun mendekati 3%.

Di sisi lain guidance yang diberikan oleh saham-saham teknologi tentang kinerja keuangan tahun ini juga bisa dibilang tak terlalu optimis bahkan cenderung mengecewakan.

CFO Apple, Luca Maestri mengatakan penjualan perusahaan bisa tertekan sebesar US$ 4-8 miliar dengan adanya disrupsi rantai pasok global akibat Covid-19 yang terjadi saat ini.

"Panduan yang mengecewakan dari raksasa teknologi seperti Amazon dan Apple telah memperburuk kekhawatiran bahwa the Fed yang jelas lebih hawkish, ditambah dengan masalah rantai pasokan yang masih sulit diatasi, dan kenaikan harga energi dapat membuat harapan 'soft landing' dari The Fed lebih sulit dipahami," kata Quincy Krosby, kepala strategi ekuitas untuk LPL Financial kepada CNBC International.

Bursa saham Eropa juga dibuka melemah pada perdagangan awal Mei. Indeks saham acuan Jerman DAX dibuka melemah 0,9% sementara indeks saham acuan Prancis CAC 40 terkoreksi 1,6%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Potret Wall Street 'Nyungsep' Gegara AS Hadapi Situasi Rumit


(vap/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading