Boncos! Saham CPO Kena ARB Berjamaah, karena RI Larang Ekspor

Market - adf, CNBC Indonesia
25 April 2022 14:17
Pengunjung melihat minyak goreng kemasan yang dijual di Lotte Grosir, Alam Sutera, Tagerang Selatan, Jumat (18/3/2022). Mulai pukul 00.00 16 Maret 2022 pemerintah mencabut ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan sederhana dan premium. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas saham emiten produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) beramai-ramai anjlok hingga di atas minus 6% dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 7% pada lanjutan sesi II Senin (25/4/2022).

Tekanan jual tampaknya terus terjadi di saham-saham emiten CPO seiring investor merespons negatif kabar pemerintah lewat Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang resmi melarang ekspor CPO dan produk minyak goreng mulai 28 April mendatang.

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), per pukul 13.56 WIB, berikut saham-saham emiten sawit yang terjungkal.


  1. Dharma Satya Nusantara (DSNG), turun -6,98%, ke Rp 600/unit

  2. PP London Sumatra Indonesia (LSIP), -6,94%, ke Rp 1.340/unit

  3. Triputra Agro Persada (TAPG), -6,92%, ke Rp 605/unit

  4. Astra Agro Lestari (AALI), -6,84%, ke Rp 12.250/unit

  5. Gozco Plantations (GZCO), -6,80%, ke Rp 192/unit

  6. Cisadane Sawit Raya (CSRA), -6,67%, ke Rp 700/unit

  7. Eagle High Plantations (BWPT), -6,25%, ke Rp 75/unit

  8. Sawit Sumbermas Sarana (SSMS), -6,25%, ke Rp 1.050/unit

  9. Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), -6,25%, ke Rp 120/unit

  10. Austindo Nusantara Jaya (ANJT), -4,90%, ke Rp 970/unit

  11. Salim Ivomas Pratama (SIMP), -4,71%, ke Rp 486/unit

  12. Provident Agro (PALM), -3,85%, ke Rp 875/unit

  13. Tunas Baru Lampung (TBLA), -3,07%, ke Rp 790/unit

  14. SMART (SMAR), -2,11%, ke Rp 4.630/unit

  15. Sampoerna Agro (SGRO), -2,07%, ke Rp 2.360/unit

Menurut data di atas, sebanyak 9 saham emiten sawit anjlok hingga lebih dari 6%, dengan 6 di antaranya menembus batas ARB 7%.

Saham DSNG menjadi yang paling 'terpukul' dengan minus 6,98% ke Rp 600/unit. Dengan ini, dalam sepekan, saham DSNG turun 11,76%.

Saham Grup Salim LSIP juga terkena ARB dengan ambles 6,94% ke Rp 1.340/unit, setelah pada Jumat pekan lalu (22/4) ditutup turun1,37%.

Tidak ketinggalan, saham TAPG dan AALI juga masing-masing tergeus 6,92% dan 6,84%.

Sebelumnya, pemerintah RI resmi melarang ekspor minyak sawit mentah dan produk minyak goreng mulai 28 April mendatang.

"Dalam rapat tersebut telah saya putuskan pemerintah melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng," kata Jokowi, Jumat (22/4/2022).

Kebijakan ini diambil menyusul polemik kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng di pasar yang terindikasi adanya aktivitas mafia.

Kejaksaan Agung (Kejagung) baru-baru ini menetapkan sejumlah tersangka terkait kasus ekspor minyak goreng. Mereka adalah pihak yang menyebabkan kelangkaan minyak goreng di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Miris, pihak yang membuat banyak masyarakat susah ternyata adalah pemerintah yang tak lain Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana (IWW) yang ditetapkan menjadi salah satu tersangka.

Selain IWW, Kejagung juga menetapkan tiga orang tersangka lainnya dalam kasus itu, yaitu Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia MPT, Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group (PHG) SM, dan General Manager di Bagian General Affair PT Musim Mas PTS. Seluruh tersangka telah ditahan oleh Kejagung.

Menurut ekonom MNC Sekuritas Tirta Citradi, kebijakan larangan ekspor CPO ini tentu akan berdampak pada penurunan kinerja ekspor bulanan.

"Di sepanjang tahun 2022 ini, ekspor minyak nabati RI mencapai hampir US$ 8 miliar, artinya per bulan sumbangsihnya sebesar US$ 3 miliar, jadi ada kemungkinan kehilangan ekspor sebesar itu. Surplus neraca dagang mungkin turun, ini secara makro kalau berkepanjangan tentu tidak akan oke terhadap stabilitas eksternal," ungkap Tirta saat dihubungi CNBC Indonesia.

Terkait dampaknya terhadap pasar, larangan ekspor CPO akan berpeluang mendorong harga CPO dan minyak nabati dunia melesat lagi mengingat Indonesia merupakan salah satu pemain CPO terbesar global.

Bagi emiten-emiten sawit, kenaikan harga CPO global jadi kurang bisa dinikmati dengan adanya larangan ekspor ini sehingga bisa menjadi salah satu katalis negatif bagi kinerja harga sahamnya, terutama yang punya pangsa ekspor besar terhadap pendapatan bisnis.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos Emiten Sawit Bakal Makin Tajir, nih!


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading