Ekonomi AS dan Lockdown Shanghai Bikin Sri Mulyani Was-Was

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
24 April 2022 19:00
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Tangkapan Layar via Youtube CNBC Television)

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi pandemi Covid-19 di China belum berakhir. Kini sebanyak 25 juta orang di Shanghai harus tinggal di tengah lockdown atau karantina ketat sejak April, karena terus melonjaknya kasus Omicron.

Di satu sisi, negara adidaya Amerika Serikat (AS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat. Karantina wilayah yang ketat di Shanghai dan ekonomi yang menguat di Amerika Serikat membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati was-was.

"Amerika Serikat dan China adalah dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Apapun yang terjadi di kedua negara itu pasti akan menyebar ke seluruh dunia," jelas Sri Mulyani dalam diskusi IMF's Debate on The Global Economy di CNBC Internasional, dikutip Minggu (24/4/2022).


Sri Mulyani menjelaskan, situasi pandemi Covid-19 di China dan kebijakan lockdown yang diberlakukan, membuat banyak kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi negara panda tersebut.

Menurut Sri Mulyani, meskipun Gubernur People's Bank of China (PBOC) Yi Gang sebelumnya mengatakan prioritas kebijakan moneter China adalah memastikan untuk keberlanjutan pertumbuhan ekonominya, namun hal itu implikasinya akan terasa ke negara-negara berkembang lainnya.

Pasalnya, kata Sri Mulyani ketika penerapan lockdown dua minggu dilakukan di Indonesia saat virus corona varian Delta mengganas, dampaknya sangat berat dipikul Indonesia.

"Itu benar-benar mengurangi pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun lalu, hampir ke teritori negatif," ujarnya.

"Jadi saya bisa membayangkan jika lockdown diperpanjang, pasti akan berdampak besar, terutama untuk kota sebesar Shanghai dalam hal ini," kata Sri Mulyani melanjutkan.

Sementara di Amerika Serikat (AS), berdasarkan proyeksi Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam akan terus meningkat hingga akhir tahun 2022.

Baik AS dan China, kata Sri Mulyani memiliki peran yang sangat penting terhadap perekonomian negara berkembang, seperti Indonesia.

Lockdown yang diterapkan di Shanghai, menurut Sri Mulyani akan sangat merusak rantai pasok untuk negara-negara di Asia, termasuk di Indonesia.

"Itu pasti (merusak rantai pasok). Mereka adalah salah satu bagian terbesar untuk Indonesia dan Asia, saya pikir komoditas penting banyak dipasok dari China," jelas Sri Mulyani.

"Jadi, ini (lockdown di Shanghai) akan mengganggu rantai pasok di China, yang separuh dampaknya akan berimbas terhadap negara-negara lain di dunia. Dalam hal ini, akan berdampak langsung terhadap permintaan komoditas dan bahan baku lainnya," kata Sri Mulyani melanjutkan.

Pada kesempatan yang sama, Powell mengatakan, efek langsung tensi geopolitik Rusia-Ukraina terhadap ekonomi AS sangat minim, namun berimbas terhadap naiknya inflasi di negaranya.

"Ekonomi Amerika Serikat berkinerja sangat baik, bahkan menurut sebagian besar perkiraan, kami akan memiliki pertumbuhan yang kuat di tahun ini," ujarnya.

"Pasar tenaga kerja tumbuh secara luar biasa secara historis dan ke titik di mana demand dan supply pekerja berada pada titik yang seimbang. Tentu saja isu besar yang sangat difokuskan adalah inflasi dan mengembalikan inflasi ke target 2%," kata Powell melanjutkan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Patuhi DMO Batu Bara, Siap-Siap Perusahaan Kena Denda


(vap/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading