Terjerat Kasus Migor, Wilmar Produsen Migor Bermerk Terbesar!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
20 April 2022 12:25
Minyak Goreng Kemasan (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah bikin pusing masyarakat akibat kelangkaan dan harga yang meroket, Jaksa Agung RI akhirnya menetapkan empat orang tersangka perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam pemberian fasilitas ekspor crude palm oil (CPO/ minyak sawit mentah) dan turunannya pada bulan Januari 2021 sampai dengan Maret 2022.

Dari keempat tersangka tersebut, tiga di antaranya berasal dari pihak pelaku usaha, yang mana salah satunya berasal dari produsen minyak kelapa sawit utama dunia, Wilmar International.

Master Parulian Tumanggor (MPT) yang merupakan Komisaris Utama PT Wilmar Nabati Indonesia resmi ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam kasus dugaan korupsi tersebut.


Kasus ini tentu ikut mencoreng nama Wilmar yang dalam laporan tahunan 2021 lalu mengklaim sebagai produsen terbesar minyak goreng kemasan bermerk di Indonesia.

Produk minyak goreng perusahaan yang dijual bebas di pasar Indonesia dan dekat dengan masyarakat adalah merek Sania dan Fortune. Selain itu produk lain yang dikeluarkan Wilmar termasuk Siip, Sovia, Mahkota, Ol'eis, Bukit Zaitun dan Goldie.

Wilmar International yang diperdagangkan secara publik di bursa Singapura, sejatinya didirikan oleh salah satu taipan asal RI Martua Sitorus.

Bersama pengusaha Singapura Kuok Khoon Hong, Martua Sitorus mendirikan Wilmar yang merupakan salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Singapura.

Minyak sawit (minyak goreng) yang diekstrak dari biji sawit adalah jenis minyak nabati yang paling banyak digunakan dan merupakan produk utama Wilmar. Selain minyak goreng, perusahaan juga memproduksi gula dan protein kedelai untuk pakan ternak.

Laman resmi perusahaan mengatakan jika Wilmar adalah salah satu pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan total luas lahan mencapai 232.053 hektar (ha) per 31 Desember 2020, di mana sekitar 65% berada di Indonesia dengan lokasi tersebar di Sumatera, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Wilmar juga memiliki lebih dari 450 pabrik dan jaringan distribusi di seluruh China, India, Indonesia, dan 50 negara lainnya. Grup perusahaan ini memiliki kurang lebih 92.000 karyawan dari berbagai negara.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Wilmar International, sampai dengan akhir tahun 2021, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 65,79 miliar atau setara dengan Rp 944 triliun (kurs Rp 14.300/US$), melonjak 30% dari capaian US$ 50,52 miliar tahun sebelumnya.

Sementara itu laba bersih perusahaan juga meningkat 23% menjadi US$ 1,89 miliar (Rp 27,12 triliun) dari semula sebesar US$ 1,53 miliar di tahun 2020. Total asetnya sampai akhir tahun 2021 mencapai US$ 58,72 miliar, dengan ekuitas mencapai US$ 22,60 miliar.

Berdasarkan data Refinitiv, pemegang saham terbesar Wilmar International adalah Kuok Brothers Sdn Bhd milik salah satu pendiri grup tersebut. Investor utama lainnya termasuk perusahaan properti yang berkantor pusat di Hong Kong, Kerry Group Ltd, serta perusahaan makanan dan perdagangan komoditas asal AS Archer-Daniels-Midland.

Sedangkan Martua Sitorus sudah tidak lagi memiliki kepemilikan langsung di antara 20 besar pemegang saham di Wilmar International  dan telah resmi mundur dari perusahaan tahun 2018 lalu.

Melansir The Straits Times, pengunduran diri tersebut terjadi beberapa hari setelah laporan Greenpeace mengaitkan nama Martua dengan perusahaan yang dituduh melakukan deforestasi.

Greenpeace, kala itu menyebut tiga perusahaan perkebunan milik Gama Corp telah membuka ribuan hektar di provinsi Papua dan Kalimantan Barat di Indonesia.

Greenpeace mengatakan temuan itu merusak reputasi Wilmar dan komitmennya pada 2013 untuk menghentikan deforestasi di semua konsesinya.

Secara bersamaan, Wilmar juga mengumumkan pengunduran diri country head untuk Indonesia, Hendri Saksti, yang merupakan saudara ipar Bapak Sitorus.Meski demikian, Darwin Indigo yang merupakan keponakan Martua Sitorus saat ini tercatat sebagai country head Wilmar di Indonesia dan juga merupakan Komisaris Utama di Wilmar Cahaya Indonesia (CEKA).

PT Sentratama Niaga Indonesia merupakan anak perusahaan Wilmar di Indonesia yang 100% sahamnya dimiliki perusahaan. Sentratama Niaga Indonesia merupakan pengendali dari CEKA dan PT Wilmar Nabati Indonesia yang saat ini tersandung kasus dugaan korupsi.

Wilmar masuk dalam Fortune Global 500 dan merupakan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), organisasi yang bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk produksi minyak sawit berkelanjutan.

CATATAN: Artikel ini telah direvisi untuk memberikan konteks yang lebih tepat mengenai latar belakang Kerry Group (Hong Kong) yang merupakan pemegang saham Wilmar. Sebelumnya penulis salah mengidentifikasi Kerry Group (Dublin), sebagai pemegang saham.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Wilmar Produsen Minyak Goreng Rupanya Berbasis di Singapura


(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading