Boy Thohir Blak-blakan Efek Perang Rusia-Ukraina ke Adaro

Market - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
18 April 2022 19:14
Pengusaha Boy Thohir saat memberi tanggapan kepada tim CNBC Indonesia di Kantor Adaro, Jakarta, Selasa (24/4) Boy Thohir merupakan putra dari salah satu pemilik Astra International Teddy Tohir. Dia juga seorang pengusaha yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia bisnis. Dia menyelesaikan pendidikan MBA-nya di Northrop University Amerika Serikat. Boy Thohir dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses membawa Adaro Energy sebagai perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Garibaldi 'Boy' Thohir buka suara terkait efek perang Rusia-Ukraina terhadap kinerja perusahaan.

Boy mengungkapkan perusahaan kini memang sudah mendapatkan sejumlah pesanan batu bara dari negara Uni Eropa, sebagai imbas larangan pembelian batu bara dari Rusia. Semakin terbatasnya pasokan batu bara asal Rusia dan Eropa semakin menghindari pasokan batu bara Rusia, maka menurutnya tentunya ini akan berimbas pada harga yang masih akan bertengger tinggi.

"Bahwa memang sudah mulai permintaan dari Eropa ke Indonesia karena mereka gak bisa mengandalkan suplai dari Rusia lagi. Intinya menurut hemat saya, so far kita thanks God lah ya," ungkapnya saat berbincang dengan media, Senin (18/04/2022).


Dia mengungkapkan, kinerja perusahaan pada 2021 lalu sudah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Adapun harga pada kuartal pertama 2022 ini bisa dikatakan lebih tinggi lagi.

Seperti diketahui, laba bersih perusahaan tercatat naik 547% secara tahunan menjadi US$ 1,02 miliar per akhir 2021. Lonjakan laba ini ditopang kenaikan pendapatan usaha pertambangan dan perdagangan batu bara sebesar 62% YoY menjadi US$ 3,83 miliar, dan pendapatan lain perusahaan sebesar US$ 65 juta atau naik 35% YoY.

"Performance Adaro seperti apa, secara garis besar saya ingin katakan bahwa kita bersyukur performance Adaro 2021 itu record high, kita belum pernah membukukan laba bersih setinggi seperti 2021," ucapnya.

"2022 pertanyaannya seperti apa? tiga bulan pertama harga masih tinggi karena terpicu oleh perang, negara Eropa sangat menggantungkan sumber energinya dari Rusia," lanjutnya.

Namun demikian, dia mengatakan, tidak ada pihak yang bisa memprediksi harga batu bara ke depannya. Dengan demikian, pihaknya tetap berfokus pada kelancaran produksi dan melakukan efisiensi.

"2021 ok banget, pertanyaannya ke depan gimana? harga gimana? gak ada yang prediksi, kita juga fokus produksi, jangan sampai dalam kondisi yang memang gak mudah ini produksi kita terganggu. Kedua, kita terus melakukan efisiensi, sehingga 2022 ini performance Adaro bisa lebih baik," jelasnya.

"Saya perkirakan suplai batu bara dunia juga masih belum bisa memenuhi demand," ucapnya.

Meski ada pesanan dari negara-negara Eropa, namun menurutnya Adaro juga masih akan tetap fokus untuk melayani pelanggan yang telah ada sebelumnya.

"Kalau Adaro karena loyal, jadi selalu loyal dengan customer yang sudah kita sediakan selama puluhan tahun," ujarnya.

Sementara itu, Chief Financial Officer (CFO) Adaro Lie Luckman mengakui pihaknya memang mendapatkan tambahan pesanan batu bara dari Eropa, namun demikian pihaknya masih fokus pada pasar di Asia.

"Dengan adanya konstelasi antara Rusia dan Ukraina, mulai ada permintaan dari Eropa, tapi memang pasar kita kan Asia. Jadi, kita fokus untuk memenuhi customer kita yang sudah ambil batu bara kita," tuturnya.

Dia menyebut, pihaknya sudah mengirimkan hingga tiga kapal batu bara ke Eropa, sementara pihaknya masih fokus memasok ke Jepang, China, Hong Kong, dan lainnya.

"Terkait pengiriman ke Eropa, kita sudah kirim 2-3 kapal, ini penjualan spot, belum ada perjanjian jangka panjang," ucapnya.

Luckman menyebut, jumlah pengiriman ke Eropa tersebut telah mencapai 300 ribu ton dan tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah ke depannya.

"Totalnya sudah sekitar 300 ribu ton yang dikirim, tidak menutup kemungkinan bisa bertambah. Dikirim ke Belanda dan Spanyol. Jerman belum," imbuhnya.

Perlu diketahui, tahun ini perusahaan menargetkan produksi mencapai 58 juta ton sampai 60 juta ton, naik dari capaian produksi pada 2021 yang mencapai 52,70 juta ton. Sementara itu, volume penjualan batu bara tahun 2021 mencapai 51,58 juta ton.

Adapun alokasi belanja modal Adaro pada 2022 sebesar US$ 300 juta - US$ 450 juta. Lalu EBITDA operasional di kisaran US$ 1,9 miliar - US$ 2,2 miliar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Adaro Ngutang Rp 1 T dari Anak Usaha, Rupanya untuk Ini


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading