Kabar Kurang Enak Batu Bara, Harganya Kok Loyo

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
15 April 2022 08:45
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali loyo. Pada perdagangan Kamis (14/4/2022), harga batu bara kontrak Mei ditutup di level US$ 320,10 per ton atau melemah 0,7% dibandingkan hari sebelumnya.

Padahal, pada awal pekan ini, harga batu bara menunjukkan tren naik. Bahkan, Rabu (13/4), harga batu bara sempat berada pada level US$322,35 per ton yang menjadi level tertinggi sejak 15 Maret 2022.

Ini membukukan kenaikan sebanyak 6,88% secara mingguan. Di mana batu bara melesat 110,94% secara tahunan.


Melansir Reuters, negara importir terbesar komoditas batu bara yaitu China, mengalami penurunan impor pada Maret jika dibandingkan dengan Maret pada 2021. Ini kemungkinan akan terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang karena China sedang menghadapi kesulitan ekonomi untuk mempertahankan kebijakan 'zero Covid'.

Shanghai telah mengunci 25 juta penduduknya selama hampir tiga pekan karena pemerintah berusaha menekan penyebaran Covid-19. Pembatasan di kota-kota lainnya juga telah terjadi dan diprediksikan akan mengganggu ekonomi China dalam beberapa pekan mendatang.

Pada Rabu (13/4/2022), Administrasi Umum Kepabeanan China merilis data perdagangan Maret juga menunjukkan volume perdagangan komoditas dan energi. Bukan cuma batu bara, minyak mentah, gas alam, biji besi, dan tembaga juga mengalami penurunan dibandingkan dengan Maret di tahun sebelumnya.

Sebagian penurunan juga terkait dengan larangan ekspor yang tidak terduga yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia. Tanah Air merupakan pemasok terbesar China.

Di sisi lainnya, India tengah menghadapi kekurangan listrik yang terus menerus. Ini diprediksikan akan kekurangan listrik hingga empat bulan ke depan karena pertumbuhan permintaan yang cepat dari Air Conditioner (AC) membanjiri pembangkit listrik.

Menurut Pusat Pengiriman Beban Nasional dari Perusahaan Operasi Sistem tenaga (POSOCO) melaporkan sebanyak beban 200.570 megawatt (MW) di 7 juli 2021. Sejak pertengahan Maret, beban dilaporkan selalu di atas 195.000 MW dan mencapai rekor 199.584 MW pada 8 April lalu.

India merupakan konsumen batu bara terbesar kedua dunia dengan total konsumsi 17,54 exajoules. Angka ini sama dengan 11,6% dari jumlah keseluruhan konsumsi dunia. Indonesia merupakan importir batu bara terbesar India dengan kontribusi sebesar 49% dari jumlah impor.

Kementerian kereta api India mengumumkan pada 12 April bahwa batu bara dari tambang domestik dan terminal impor akan diprioritaskan pada jaringan kereta api hingga akhir Juni. Tapi, tingkat persediaan batu bara yang sangat rendah di pembangkit listrik mengakibatkan India akan kekurangan listrik selama beberapa bulan ke depan.

Suhu di India utara sangat tinggi sepanjang tahun sejak pertengahan Maret, yang mengakibatkan peningkatan pesat dalam permintaan listrik. Beban puncak harian dalam tujuh hari yang berpusat pada 8 April lebih dari 9% lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Meskipun, permintaan dari China menurun, tapi potensi permintaan dari India tampaknya akan naik. Kemungkinan harga batu bara masih akan tetap tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gokil! Harga Batu Bara 'Terbang' 16,6% Sepekan


(aaf/aaf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading