Rusia Dilarang Ekspor, Batu Bara Dekati Level US$ 300/Ton

Market - adf, CNBC Indonesia
10 April 2022 12:00
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat dua digit dan kembali mendekati level US$ 300/ton, usai hanya sekali terkoreksi dalam sepekan ini.

Menurut data Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle kontrak Mei ditutup di US$ 299,50/ton pada Jumat (8/4/2022). Dalam sepekan, harga batu bara melonjak 18,85%. Dalam seminggu ini, harga si batu hitam hanya satu kali melorot, yakni pada Kamis (7/4) sebesar 0,64%.


Kenaikan harga batu bara dipicu rencana kebijakan Uni Eropa yang akan melarang 27 negara anggotanya untuk mengimpor batu bara Rusia.

Larangan impor membuat negara-negara Eropa mesti mencari pasokan dari negara lain, seperti Kolombia, Afrika Selatan, Australia, dan Indonesia. Kondisi ini membuat permintaan batu bara akan semakin tinggi dan harganya pun melambung.

"Adanya gangguan pola perdagangan akan membuat harga batu bara semakin melonjak. Ini juga akan menjadi insentif bagi China dan India untuk menambah produksi," tutur Alex Stuart-Grumbar, analis dari konsultan perusahaan perkapalan MSI, seperti dikutip Reuters.

Pada Kamis (7/4), Uni Eropa sepakat untuk memberlakukan impor larangan batu bara dari Rusia. Larangan berlaku penuh mulai pertengahan Agustus, sebulan lebih lambat dari yang diusulkan. Rencana penundaan pelarangan menjadi pertengahan Agustus ini disebutkan karena adanya tekanan dari Jerman untuk menunda kebijakan tersebut.

Semula, Komisi Uni Eropa mengusulkan adanya wind down period yang berlaku selama tiga bulan untuk kontrak yang ada. Ketentuan tersebut memungkinkan Uni Eropa masih bisa mengimpor batu bara Rusia selama 90 hari setelah sanksi resmi dijatuhkan. Namun, karena tekanan Jerman, wind down period ditambah menjadi 140 hari.

Pelarangan impor batu bara Rusia oleh Uni Eropa ini merupakan langkah signifikan dalam bagian paket sanksi kelima terhadap Rusia yang diusulkan Komisi Uni Eropa minggu ini, sebagai reaksi terhadap kekejaman di kota Bucha, Ukraina.

Dengan sanksi yang diperkirakan akan berlaku akhir pekan ini, atau awal minggu depan, setelah dipublikasikan di jurnal resmi UE, perusahaan Rusia akan secara efektif dapat mengekspor batu bara ke UE hingga pertengahan Agustus berdasarkan kontrak yang ada.

"Kita akan menggunakan periode ini. Jika memang bisa berjalan lebih cepat tentu saja itu bagus tetapi kita membutuhkan lebih banyak waktu. Begitu juga perusahaan meskipun mereka kini tengah mencari pemasok baru," tutur Kanselir Jerman Olaf Scholz, seperti dikutip Reuters.

Jerman, Polandia, Italia, dan Belanda adalah negara yang sangat bergantung kepada batu bara Rusia. Asosiasi Importir Batu Bara Jerman (VdKi) mengatakan mereka tengah mencari pasokan batu bara dari negara lain seperti Kolombia, Afrika selatan, Australia, dan Amerika Serikat.

Jerman mengimpor 18 juta ton batu bara energi tinggi (hard coal) dari Rusia tahun lalu, yang setara dengan 2% dari total perdagangan batu bara global.

Namun, Jerman kemungkinan akan membayar batu bara dari pemasok baru dengan harga premium karena ketatnya pasokan dan mahalnya biaya pengiriman.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Dunia III Meletus, Pasokan Batu Bara Dunia Bisa Kiamat


(adf/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading