Kabar Gembira! Biang Kerok Kenaikan Pertamax Akhirnya Ambrol

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 April 2022 07:30
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah ambrol, bahkan mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 2 tahun terakhir. Jebloknya harga minyak mentah tersebut tentunya menjadi kabar bagus, sebab tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi bisa mereda, Di Indonesia, kenaikan harga minyak mentah bahkan membuat pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax secara signifikan.

Melansir data Refinitiv, harga minyak mentah jenis Brent ambrol 13,5% ke US$ 104,39/barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) merosot 12,8% ke US$ 99,27/barel sepanjang pekan ini.

Penurunan tersebut menjadi yang terbesar bagi WTI sejak pekan kedua April 2020 ketika ambrol nyaris 20%. Sementara bagi Brent menjadi yang terburuk sejak pertengahan Maret 2020, di mana saat itu penurunan harganya lebih dari 20% dalam sepekan. Meski demikian, di tahun ini baik Brent maupun WTI masih mencatat kenaikan lebih dari 30%. 


Pada 7 Maret lalu, harga minyak Brent sempat nyaris menyentuh US$ 140/barel dan WTI mencapai US$ 130/barel yang merupakan level tertinggi nyaris 14 tahun terakhir, tepatnya sejak Juli 2008.

Kenaikan harga minyak mentah tersebut, yang diikuti dengan harga gas alam hingga batu bara membuat inflasi di negara Barat semakin tinggi, sehingga dikhawatirkan akan memicu stagflasi atau stagnannya pertumbuhan ekonomi dengan inflasi yang tinggi.

Sementara itu di Indonesia, akibat tingginya harga minyak mentah sejak 1 April pemerintah resmi menaikkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp 12.500 - Rp 13.000 per liter, dari sebelumnya Rp 9.000 per liter.

Jebloknya harga minyak dunia di pekan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joseph 'Joe' Biden merencanakan untuk mengeluarkan cadangan minyak strategis (strategic petroleum reserve/SPR) dari persediaan nasional sebesar 1 juta barel/hari selama enam bulan atau sekitar 180 juta barel. Pengeluaran cadangan minyak sebesar itu adalah yang tertinggi sepanjang sejarah.

"Skala pelepasan SPR ini belum pernah terjadi sebelumnya, dunia tidak pernah melepas cadangan minyak sebesar 1 juta barel per hari untuk jangka waktu yang panjang. Rekor pelepasan ini akan menjadi jembatan penyeimbang antara supply dengan demand hingga akhir tahun nanti, sampai tingkat produksi domestik meningkat," kata Pemerintah AS, sebagaimana diwartakan CNBC International, Kamis (31/3).


Meski demikian, analis komoditas Goldman Sachs mengatakan pelepasan dari SPR akan membantu pasar minyak menuju penyeimbangan kembali pada 2022, tetapi tidak akan menyelesaikan defisit strukturalnya.

"Pelepasan SPR bukan merupakan sumber pasokan untuk tahun-tahun mendatang. Sehingga pelepasan cadangan minyak tersebut tidak menyelesaikan masalah structural dari defisit supply," katanya analis tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bukan Poltak Si Raja Minyak, Tapi Minyak Memang Jadi Raja...


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading