Duh! Bulan Puasa Di Depan Mata, Harga CPO Naik 7% Pekan Ini

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
27 March 2022 14:00
Pengunjung melihat minyak goreng kemasan yang dijual di Superindo, Pamulang 2, Tagerang Selatan, Jumat (18/3/2022). Mulai pukul 00.00 16 Maret 2022 pemerintah mencabut ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan sederhana dan premium. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) kembali rebound pekan ini setelah minggu lalu sempat ambles 16,07% yang merupakan respons atas reli kenaikan harga semala dua pekan beruntun.

Pekan ini harga CPO ditutup melesat 707% secara point-to-point ke level RM 6.031/ton. Sedangkan sejak awal tahun harga CPO masih mengalami pertumbuhan nyaris 25%.

Dari akhir Februari hingga pekan lalu, harga CPO melesat cukup tinggi, bahkan sempat menyentuh rekor tertingginya di level US$ 7.074/ton pada 9 Maret lalu.


Kenaikan harga CPO mengikuti harga minyak dunia yang juga kembali menguat pekan ini, Hong Leong Investment Bank Bhd atau dikenal dengan HLIB Riset bahkan mengatakan bahwa harga CPO akan tetapi tinggi untuk sementara, kemungkinan hingga akhir Juni.

HLIB menambahkan bahwa hal tersebut didukung gangguan pasokan kelapa sawit di Malaysia yang akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, ketidakpastian produksi pada minyak biji bunga matahari dari konflik Rusia-Ukraina, dan juga krisis kekeringan di Amerika Selatan untuk minyak kedelai.

Meskipun harga bahan baku lebih mahal, Kamis (24/3) lalu, produsen minyak sawit utama Indonesia dan Malaysia tetap berkomitmen pada program biodiesel guna mencapai energi hijau.

Indonesia dan Malaysia menggunakan minyak sawit sebagai campuran biodiesel, di mana Indonesia menggunakan B30 yang hanya mengandung 30% bahan dasar kelapa sawit campuran.

Lebih dari itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan bahwa Indonesia tidak akan berhenti di B30 saja, tapi merambah ke B40 yang mengandung 40% bahan berbasis kelapa sawit. Biodiesel ini nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar diesel, bensin, dan bahan bakar jet.

Sementara itu Malaysia juga berkomitmen untuk memperluas program biodieselnya setelah sempat tertunda karena pandemi Covid-19.

Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Zuraida Kamaruddin mengatakan Malaysia berencana untuk menerapkan program biofuel minyak sawit B20 secara nasional pada akhir tahun ini. Selanjutnya, Malaysia juga akan meningkatkan produksi biodieselnya ke B30.

Pemerintah Hapus DMO CPO

Di tengah harga CPO yang tidak menentu, pekan lalu pemerintah Indonesia mengumumkan untuk menghapus kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan produsen CPO menjual 30% dari produksi CPO nya untuk dalam negeri.

Namun, pemerintah mengganti kebijakan dengan menaikkan Dana Pungutan (DP) ekspor CPO secara signifikan dan Bea Keluar (BK), dalam upaya untuk mengendalikan harga minyak lokal setelah kebijakan sebelumnya gagal mengatasi masalah dalam negeri.

Menurut peraturan Kementerian Perdagangan, kebijakan terbaru akan menaikkan tarif ekspor dari US$ 375/ton menjadi US$675/ton. Batas maksimum dana pungutan dinaikkan dari US$ 1.000/ton menjadi US$ 1.500/ton

Pemerintah menyatakan akan menggunakan dana untuk menyubsidi penjualan minyak goreng curah selama 6 bulan ke depan dengan estimasi biaya subsidi sebesar 202 juta liter setiap bulan yang setara dengan nilai US$ 500 juta.

Pengekspor CPO Indonesia diwajibkan membayar pajak ekspor atas pengiriman minyak sawit di atas pungutan ekspor maksimum US$ 200/ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Ramalan' Harga Sawit Ini Bisa Bikin Senam Jantung!


(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading