Kabar Gembira! Bursa Asia Dibuka Cerah, IHSG Bisa Latah?

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
23 March 2022 08:41
Employees of a foreign exchange trading company work near monitors showing TV program on the inter-Korean summit (top R) and Japan's Nikkei share average (top L) in Tokyo, Japan, April 27, 2018.  REUTERS/Toru Hanai

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik kembali dibuka cerah pada perdagangan Rabu (23/3/2022), karena investor kembali memantau harga minyak mentah dunia dan terus menilai prospek kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS).

Indeks Nikkei Jepang dibuka melonjak 1,43%, Hang Seng Hong Kong melesat 0,85%, Shanghai Composite China naik 0,16%, Straits Times Singapura menguat 0,35%, KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,79%, dan ASX 200 Australia bertambah 0,48%.

Investor memantau pergerakan harga minyak yang kembali terkoreksi, setelah adanya kabar bahwa Uni Eropa tidak mungkin memberlakukan embargo minyak secara langsung kepada Rusia atas agresi militer tak beralasan ke Ukraina.


Pada perdagangan pagi hari ini waktu Asia, harga minyak jenis Brent melemah 0,63% ke level US$ 114,75 per barel, sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,53% ke level US$ 108,69 per barel.

Di lain sisi, Presiden AS Joe Biden menilai bahwa Rusia "terbentur tembok" karena perang dengan Ukraina menurut dia "mendekati jalan buntu".

Bursa Asia-Pasifik juga cenderung mengikuti pergerakan bursa saham AS, Wall Street yang ditutup menghijau pada perdagangan Selasa kemarin waktu AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,74% ke level 34.807,46, S&P 500 melesat 1,13% ke posisi 4.511,61, dan Nasdaq Composite melonjak 1,95% menjadi 14.108,82.

Wall Street bergerak volatil sejak Senin lalu setelah bos bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell mengatakan bahwa inflasi terlalu tinggi dan berjanji mengambil "langkah yang diperlukan" untuk menekannya, bahkan jika harus menaikkan lebih dari 25 basis poin per kenaikan.

Beberapa pelaku pasar menaikkan ekspektasi mereka untuk kenaikan suku bunga. Sebab Powell mengatakan The Fed dapat menggerakkan suku bunga acuan lebih agresif dari perkiraan sebelumnya.

"Jika kami menyimpulkan bahwa pantas untuk bergerak lebih agresif dengan menaikkan suku bunga federal fund lebih dari 25 basis poin pada tiap pertemuan, kami akan melakukannya," kata Powell pada hari Senin kepada National Association for Business Economics.

Goldman Sachs pada Senin menaikkan perkiraannya menjadi kenaikan 50 basis poin pada pertemuan Fed bulan Mei dan Juni.

"Kami pikir kemungkinan kenaikan suku bunga 50 bp meningkat," kata Jonathan Pingle, Kepala Ekonom UBS dalam sebuah laporan risetnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Bangkit Mengekor Wall Street, Kecuali Shanghai


(chd/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading