Bursa Asia Ditutup Mixed, Hang Seng Loyo-Straits Times Nanjak

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
21 March 2022 16:51
foto : Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik kembali ditutup beragam pada perdagangan Senin (21/3/2022), karena investor bereaksi terhadap rilis suku bunga pinjaman acuan terbaru bank sentral China.

Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup merosot 0,89% ke level 21.221,34, ASX 200 Australia melemah 0,22% ke 7.278,5, dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi 0,77% ke posisi 2.686,05.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China ditutup naik tipis 0,08% ke level 3.253,69, Straits Times Singapura melesat 0,75% ke 3.355,51, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berakhir naik tipis 0,216 poin (+0,00%).


Sementara untuk indeks Nikkei Jepang hari ini tidak dibuka karena sedang libur nasional memperingati hari Ekuinoks Musim Semi.

Indeks Hang Seng kembali ditutup memerah, setelah pada perdagangan pekan lalu cenderung bergelombang. Pada pekan lalu, Hang Seng terpantau melesat hingga 4%. Namun secara harian, pergerakan Hang Seng pada pekan lalu bagaikan roller coaster.

Hal ini karena adanya beberapa kabar kurang menggembirakan datang dari saham properti terbesar kedua China yang terdaftar di bursa Hong Kong yakni saham Evergrande, di mana perdagangan saham Evergrande kembali disuspensi oleh otoritas bursa setempat.

Saham yang disuspensi yakni unit properti dan unit kendaraan energi baru. Penghentian sementara perdagangan saham Evergrande dilakukan terkait dengan rilis dari pengumuman yang berisi informasi orang dalam.

Di lain sisi, saham Rusal Rusia yang terdaftar di bursa Hong Kong ambles 5,4%. Perusahaan mengatakan bahwa pihaknya sedang mengevaluasi dampak dari sanksi yang diumumkan pada Minggu kemarin oleh pemerintah Australia terhadap ekspor alumina dan bijih aluminium ke Rusia.

Sementara itu dari China, Bank sentral China (People Bank of China/PBoC) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya. Untuk suku bunga pinjaman bertenor 1 tahun masih bertahan di level 3,7%, sedangkan suku bunga pinjaman bertenor 5 tahun tetap di level 4,6%.

Keputusan PBoC ini sesuai dengan survei Reuters yang memperkirakan suku bunga pinjaman China tetap tidak berubah pada penetapan Maret. Namun dari 36 lembaga, hanya setengahnya yang memperkirakan demikian.

Sedangkan sisanya mengharapkan bahwa PBoC akan memangkas suku bunga pinjaman jangka menengah pada pekan ini, karena mereka menyambut baik dari rencana Beijing yang akan meluncurkan lebih banyak langkah-langkah stimulus untuk mendorong ekonomi China pulih kembali.

Meski beberapa investor di Asia-Pasifik cenderung merespons negatif dari sentimen pasar saham Hong Kong, tetapi beberapa investor lainnya tampaknya bersikap optimis pada hari ini.

Hal ini karena mereka merespons positif dari diadakannya dialog antara Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden dan Presiden China, Xi Jinping mengenai konflik di Ukraina. Keduanya ingin konflik segera berakhir. Hal ini yang kemudian diapresiasi oleh pasar.

Biden dan Xi menekankan langkah diplomatik sebagai solusi konflik antara Rusia dan Eropa Timur. Pihak AS memberi peringatan kepada China agar tidak memberikan dukungan material untuk Rusia. Sementara China meminta aliansi NATO untuk membuka dialog dengan Rusia.

Meski begitu, ancaman perang dunia ketiga masih ada jika upaya negosiasi antara Rusia-Ukraina kembali gagal. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di tengah upaya negosiasi keduanya yang masih terus dilakukan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kabar Gembira! Bursa Asia Dibuka Cerah, IHSG Bisa Latah?


(chd/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading