Luhut Benar, Rupiah Salah Satu Mata Uang Terkuat di Dunia!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 March 2022 20:44
Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara Digital Economy Working Group G20 2022. (Tangkapan layar youtube Kemkominfo TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat tipis 0,03% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.325/US$ pada perdagangan Selasa (15/3/2022). Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan acara Kick Off Digital Economy Working Group G20 2022 di Jakarta hari ini bahkan menyatakan rupiah menjadi salah satu mata uang terkuat di dunia saat ini.

Pernyataan Luhut memang benar. Melansir data Refinitiv, rupiah sepanjang tahun ini hanya melemah 0,6% saja melawan dolar AS, dan berada di urutan ke delapan mata uang dunia.


idrFoto: Refinitiv

Melihat kondisi eksternal saat ini, mulai dari kemungkinan bank sentral AS (The Fed) yang akan sangat agresif dalam menaikkan suku bunga, begitu juga dengan perang Rusia dengan Urkaina, semuanya menguntungkan bagi dolar AS. Tetapi, rupiah hanya melemah 0,6% saja, sehingga bisa dikatakan memang perkasa di kuartal I-2022.

Menurut luhut, digitalisasi yang menimbulkan efisiensi menjadi salah satu kunci penguatan rupiah. Salah satu digitalisasi yang dimaksud yakni penerapan SIMBARA (Sistem Informasi Mineral dan Batu Bara Antar Kementerian dan Lembaga). Menurut dia, keberadaan SIMBARA akan menekan selisih angka terkait data mineral seperti nikel hingga batu bara dari Kementerian ESDM hingga Kementerian Keuangan.

"Jadi tidak ada lagi terjadi angka yang selisih beda dan itu menimbulkan kerugian negara. Ini saya kira pajak kita tahun ini pasti lebih tinggi dari target. Kenapa? Penerimaan dari sini pasti lebih," ujar Luhut.

Seperti diketahui harga komoditas sedang meroket belakangan ini yang memberikan keuntungan bagi Indonesia. Sebut saja batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang harganya terus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, meski belakangan ini sudah mulai turun.

Neraca perdagangan Indonesia pun sudah mencatat surplus dalam 22 beruntun di bulan Februari 2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini melaporkan nilai impor bulan lalu sebesar US$ 16,64 miliar, tumbuh 25,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Sementara ekspor Indonesia pada Februari 2022 sebesar US$ 20,46 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan masih membukukan surplus US$ 3,82 miliar.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan neraca perdagangan Februari 2022 surplus US$ 1,8 miliar. Sedangkan konsensus versi Reuters 'meramal' surplus neraca perdagangan di US$ 1,66 miliar.

Surplus neraca perdagangan yang sudah terjadi dalam 22 bulan beruntun tersebut juga membantu transaksi berjalan (current account) mencatat surplus di tahun 2021 lalu, menjadi yang pertama dalam 10 tahun terakhir.

Transaksi berjalan menjadi faktor yang begitu krusial bagi pergerakan rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil ketimbang pos Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) lainnya, yakni transaksi modal dan finansial.

Jika transaksi berjalan mampu mempertahankan surplusnya di kuartal I-2022 atau bahkan di tahun ini, bukan tidak mungkin akan berbalik menguat melawan dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Diramal Loyo di 2022, Dolar AS Bisa Tembus Rp 15.000


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading