Bursa Asia Sedang Kurang Bergairah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
15 March 2022 08:46
A panel outside the Hong Kong Exchanges displays top active securities during morning trading in Hong Kong, China October 11, 2018.  REUTERS/Bobby Yip

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung melemah pada perdagangan Selasa (15/3/2022), di mana investor menilai prospek ekonomi global di tengah masih memanasnya konflik Rusia-Ukraina dan jelang rilis beberapa data ekonomi di China.

Hanya indeks Straits Times Singapura yang dibuka di zona hijau pada hari ini, yakni menguat 0,25%.

Sedangkan indeks Nikkei Jepang sempat dibuka melemah 0,35%, namun selang 90 menit setelah dibuka, Nikkei berhasil rebound dan menguat 0,29%.


Sementara sisanya dibuka di zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka ambruk 3,26%, Shanghai Composite China ambles 1,3%, KOSPI Korea Selatan merosot 0,73%, dan ASX 200 Australia melemah 0,54%.

Dari China, beberapa data ekonomi seperti data produksi industrial dan penjualan ritel periode Januari-Februari 2022 akan dirilis pada hari ini pukul 10:00 waktu setempat atau pukul 09:00 WIB.

China juga kini sedang kembali dihadapkan oleh melonjaknya kembali virus corona (Covid-19), di mana pandemi Covid-19 di China saat ini menjadi yang terburuk sejak puncak pandemi pada tahun 2020 lalu, dengan kota-kota besar termasuk Shenzhen kembali memberlakukan pembatasan aktivitas bisnis.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas cenderung terkoreksi juga cenderung kembali mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) yang secara mayoritas kembali terkoreksi pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun tipis 1,047 poin (0,00%) ke level 32.945,238. Namun indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite kembali terkoreksi kemarin. S&P 500 merosot 0,74% ke level 4.173,11 dan Nasdaq ambruk 2,04% ke posisi 12.581,22.

Saham-saham teknologi kembali dilepas oleh investor di AS dan memperberat indeks Nasdaq kemarin. Hal ini terjadi jelang pertemuan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) minggu ini dan adanya perkiraan kenaikan suku bunga.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam 3 tahun belakangan pada Rabu minggu ini waktu AS dalam upaya untuk memerangi kenaikan inflasi di Negeri Paman Sam tersebut.

"Kami melihat rotasi itu ke [sektor saham] nilai dan menjauh dari [sektor saham] pertumbuhan, dan hal itu terutama sekali terkait dengan apa yang terjadi pada suku bunga," kata Paul Nolte, manajer portofolio di Kingsview Investment Management di Chicago kepada Reuters.

Sebagaimana diketahui, suku bunga acuan yang lebih tinggi bersifat negatif untuk saham perusahaan teknologi dan pertumbuhan. Ini karena valuasi keduanya lebih bergantung pada arus kas masa depan atau future cash flows.

Selain soal rencana kenaikan suku bunga The Fed, perkembangan konflik Ukraina-Rusia menambah kehati-hatian investor setelah delegasi Rusia dan Ukraina mengadakan pembicaraan putaran keempat pada Senin kemarin, tetapi tidak ada kemajuan yang diumumkan atas pertemuan tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Merah, Nikkei-Hang Seng Ambles 1% Lebih


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading