Perang Makin Panas, Bursa Asia Berani di Zona Hijau

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
08 March 2022 08:50
A man is reflected on an electronic board showing a graph analyzing recent change of Nikkei stock index outside a brokerage in Tokyo, Japan, January 7, 2019. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik kembali dibuka terkoreksi pada perdagangan Selasa (8/3/2022), di tengah prospek damai antara Rusia-Ukraina yang semakin kabur dan masih melesatnya harga minyak mentah dunia.

Hanya indeks Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China yang dibuka di zona hijau pada hari ini. Hang Seng dibuka menguat 0,67% dan Shanghai dibuka terapresiasi 0,24%.

Sedangkan sisanya cenderung kembali terkoreksi pada hari ini. Indeks Nikkei Jepang dibuka merosot 0,85%, ASX 200 Australia turun 0,15%, KOSPI Korea Selatan ambles 1,48%, dan Straits Times Singapura terkoreksi 0,27%.


Bursa Asia-Pasifik yang cenderung beragam pada hari ini terjadi di tengah masih terkoreksinya bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin kemarin waktu setempat.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup ambruk 2,37% ke level 32.817,379, S&P 500 ambles 2,95% ke posisi 4.201,08, dan Nasdaq Composite anjlok 3,62% menjadi 12.830,96.

Prospek damai Rusia-Ukraina yang semakin kabur dan membuat harga minyak mentah dunia melonjak kembali memantik aksi jual investor di bursa saham New York.

Harga minyak mentah acuan AS yakni West Texas Intermediate (WTI) lompat 1,5% menjadi US$ 117 per barel setelah sempat menyentuh angka US$ 130 per barel. Adapun minyak acuan global jenis Brent melesat ke level US$ 121 per barel, setelah sempat menyentuh level US$ 139 per barel atau level tertinggi sejak Juli 2008.

Reli terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken kepada NBC pada Minggu lalu menyatakan bahwa Washington "sangat aktif berdiskusi" dengan pemerintah di Eropa mengenai rencana blokade migas Rusia.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi dalam surat resminya ke kader Partai Demokrat menyatakan bahwa pihaknya "mencari legislasi yang kuat" untuk melarang impor minyak asal Rusia - yang diyakini bakal kian mengisolasi Rusia dari ekonomi global.

Pekan lalu, Ukraina menuduh Rusia melanggar gencatan senjata dengan melancarkan kembali serangan. Di sisi lain, Rusia menuduh pemerintah Ukraina justru tak mengizinkan warga sipil keluar lewat jalur yang disepakati karena memakai mereka sebagai tameng.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar pun kembali naik, sebesar 4 basis poin (bp) menjadi 1,76%. Kenaikan yield mengindikasikan harga yang tertekan karena permintaan aset minim risiko (dalam hal ini obligasi pemerintah) menurun.

"Pasar saham berkutat dengan tekanan suplai komoditas termasuk harga minyak dan khawatir bahwa ini bisa berubah menjadi tekanan stagflasi dan tak hanya inflasi," tutur Kathy Bostjancic, Kepala Ekonom Oxford Economics kepada CNBC International.

Kondisi perang Rusia-Ukraina yang terus berkembang beserta risiko gangguan rantai pasok bisa semakin membuat harga energi melambung. Alhasil, tekanan inflasi pun semakin meningkat.

Pada Kamis mendatang, AS akan merilis laporan inflasinya. Dengan kenaikan tajam harga komoditas energi, pelaku pasar memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS bakal naik 0,8% secara bulanan (mom). Secara tahunan inflasi AS diperkirakan melesat sampai 7,9% (yoy).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Domestik Waspada... Mayoritas Bursa Asia Dibuka Melemah


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading