Harga Migas Meroket, Dua Keluarga Crazy Rich Ini Makin Tajir

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
07 March 2022 15:15
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi ketat dan ancaman akan pasokan yang berkurang di pasar minyak dan gas (migas) akibat konflik antara Rusia dan Ukraina membawa harga komoditas energi tersebut ke level tertinggi multitahun.

Harga minyak dunia melesat pada perdagangan pagi ini dan mampu mencatat rekor baru. Pada Senin (7/3/2022) pukul 07:34 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 128,99/barel. Melonjak 9,21% dari posisi akhir pekan lalu dan merupakan yang tertinggi sejak Juli 2008.

Sementara yang jenis light sweet harganya US$ 125,01/barel. Meroket 9,24% dan juga rekor tertinggi sejak Juli 2008.


Kenaikan yang sama juga terjadi pada harga gas Eropa ikut meroket sepanjang 2022 seiring dengan sanksi internasional yang dikenakan kepada Rusia.

Awal bulan ini, harga gas Eropa acuan Belanda sempat mendekati rekor tertinggi yang dicatatkan di akhir tahun lalu sebesar Euro 181/megawatt hour, setelah pipa yang membawa gas Rusia ke Jerman dialihkan di wilayah timur.

Kenaikan ini juga membuat saham-saham emiten migas nasional mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Bahkan ada yang sejak awal tahun naik lebih dari 65%.

Lalu taipan mana saja yang diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan gas dunia ini?

Grup Bakrie

Grup Bakrie merupakan pengendali dari salah satu emiten minyak dan gas bumi utama di Indonesia, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

ENRG sendiri bergerak dalam bidang eksplorasi dan perdagangan minyak dan gas bumi dan mulai beroperasi secara komersial pada bulan Februari 2003.

Wilayah operasi perusahaan tersebar tidak hanya di Indonesia, tapi juga sampai mancanegara, tepatnya di Afrika.

Melalui anak perusahaannya, EMP mengoperasikan hak partisipasi di 8 wilayah minyak dan gas bumi: Bentu, Korinci Baru, Selat Malaka, Tonga dan Gebang di Sumatera; Kangean di Jawa Timur; Sanggatta II di Kalimantan Timur; dan Buzi di Mozambik.

Perusahaan tercatat mengeksplorasi dan memproduksi minyak dan gas alam di area lebih dari 22.000 km2. EMP adalah pemasok gas bumi utama di wilayah Jawa Timur dan Sumatera, baik untuk pembangkit listrik melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) maupun untuk persediaan pakan untuk kebutuhan industri.

Didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas dunia, saham emiten Grup Bakrie ikut melonjak 68% sejak awal tahun 2022.

Berdasarkan laporan keuangan kuartalan terbaru, hingga akhir September lalu kinerja laba perusahaan secara tahunan (year-over-year) turun 56% menjadi US$ 18,52 juta atau setara dengan Rp 265,76 miliar (kurs Rp 14.350/US$) dari posisi akhir kuartal III tahun 2020 yang mencapai US$ 42,03 juta (Rp 603,13 miliar). Meski demikian dalam periode yang sama pendapatan perusahaan tumbuh 24%.

Grup Medco

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) adalah emiten yang bergerak dalam bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi dan kegiatan energi lainnya, yang melakukan pengeboran baik di darat maupun lepas pantai. Perusahaan yang didirikan oleh pengusaha kawakan Arifin Panigoro ini mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 13 Desember 1980.

Melalui anak perusahaannya Grup Medco menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama dan memilki memiliki wilayah kerja di berbagai daerah di Indonesia. Dalam laporan keuangan terbaru diketahui Medco memiliki 17 blok wilayah operasi dalam negeri dan 8 blok di luar negeri.

Dari dalam negeri wilayah kerjanya termasuk di Blok A Aceh, Rimau, Lematang, Bawean di pulau Jawa, Tarakan dan Simenggaris di Kalimantan serta Senoro-Toili di Sulawesi.

Sedangkan di luar negeri wilayah operasi perusahaan tersebar di berbagai negara mulai dari Thailand dan Vietnam di Asia; Yaman, Oman dan Libya di timur tengah; Meksiko di Benua Amerika hingga Tanzania di Afrika Timur.

Akibat potensi pasokan migas dunia yang ketat, saham MEDC tercatat mengalami kenaikan hingga 48%.

Hingga September tahun lalu, perusahaan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang pada akhirnya mampu membalikkan kondisi rugi US$ 180,51 juta (Rp 2,59 triliun) akhir kuartal III 2020, menjadi laba sebesar US$ 56,12 juta (Rp 805,32 miliar) pada akhir September 2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Dunia III Batal, Saham ENRG-MEDC-ELSA Dkk Ambles


(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading