Tak Terbendung, Harga Minyak Brent Lompat ke US$ 104/Barel

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
01 March 2022 21:04
FILE - In this Aug. 26, 2021 file photo, a flare burns natural gas at an oil well Aug. 26, 2021, in Watford City, N.D. The world's facing an energy crunch. Europe is feeling it worst as natural gas prices skyrocket to five times normal, forcing some factories to hold back production. Reserves depleted last winter haven't been made up, and chief supplier Russia has held back on supplying extra. Meanwhile, the new Nord Stream 2 gas pipeline won't start operating in time to help if the weather is cold, and there's talk Europe could wind up rationing electricity. China is feeling it too, seeing power outages in some towns. (AP Photo/Matthew Brown, file)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia menguat pada Selasa (1/3/2022) dan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2014 menyusul makin dekatnya serangan besar-besaran tentara Rusia atas Ibu Kota Ukraina.

Sebelumnya pada Kamis pekan lalu, harga energi utama dunia tersebut sempat melampaui angka US$ 100 per barel ketika Rusia resmi menyerang Ukraina. Lonjakan terjadi karena kekhawatiran bahwa pasokan minyak akan terganggu mengingat Rusia merupakan produsen utama dunia.

Hari ini, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) lompat 5,7% ke level US$ 101,17 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent yang jadi acuan dunia melesat 6,3% ke US$ 104,16/barrel.


Pada Senin kemarin, Kanada menyatakan telah memboikot impr minyak asal Rusia. Sanksi keuangan yang diberlakukan Blok Barat bakal mengganggu pembayaran jual-beli energi tersebut di pasar dunia.

"Penyedia pembiayaan utama bagi broker komoditas di Eropa mulai mengurangi pembiayaan jual-beli komoditas dan perbankan China juga mulai mundur," tulis JPMorgan dalam laporan risetnya seperti dikutip CNBC International.

Sebelum serangan Rusia terhadap Ukraina, pasar minyak dunia telah ketat. Permintaan berbalik menguat, sementara suplai masih terbatas. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia akan bertemu pekan ini untuk membahas target produksi pada April.

Lembaga Energi Dunia (International Energy Agency/IEA) bakal menggelar rapat "luar biasa" pada hari ini untuk membahas "dampak serangan Rusia atas Ukraina terhadap pasokan minyak dan bagaimana anggota IEA bisa memainkan peran untuk menstabilkan pasar energi," cuit Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol kemarin melalui Twitter.

Morgan Stanley hari ini menaikkan proyeksi harga minyak jangka pendek dengan menyebutkan bahwa situasi di Ukraina membentuk "premi risiko di harga minyak yang masih akan bertahan beberapa bulan ke depan."

Bank investasi ini menargetkan harga minyak jenis Brent di kisaran US$ 110/barel pada kuartal II-2922, naik dari proyeksi sebelumnya di angka US$ 100. Dalam skenario bullish, harga bahkan diprediksi bisa menyentuh US$ 125/barel.

"Di tengah situasi pasar yang ketat, disrupsi sekecil apapun bisa memiliki dampak yang besar terhadap harga," tulis Morgan Stanley.

Saat ini, warga Amerika telah merasakan dampak kenaikan harga minyak di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) mereka. Rerata harga BBM di angka US$ 3,619/galon pada hari ini, menurut data AAA, atau naik 24 sen secara bulanan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bukan Poltak Si Raja Minyak, Tapi Minyak Memang Jadi Raja...


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading