Rusia-Ukraina Akhirnya Berunding, Yield SBN Ditutup Menguat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
01 March 2022 19:34
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (1/3/2022), karena investor cenderung mengabaikan konflik antara Rusia dengan Ukraina yang hingga kini masih berlangsung.

Mayoritas investor cenderung melepas obligasi pemerintah pada hari ini, ditandai dengan naiknya imbal hasil (yield). Hanya SBN bertenor satu, tiga, dan 15 tahun yang ramai diburu oleh investor, ditandai dengan penurunan yield dan penguatan harga.

Melansir data dari Refinitiv, yield SBN bertenor satu tahun turun signifikan sebesar 69,4 basis poin (bp) ke level 2,378%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo tiga tahun juga turun 1,8 bp ke level 3,432%, dan yield SBN berjangka waktu 15 tahun melemah 0,7 bp ke level 6,353%.


Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan yield SBN acuan negara cenderung stagnan di level 6,51% pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.


Dari dalam negeri, sentimen datang dari rilis data ekonomi. Pekan pertama bulan Maret telah ditandai dengan berbagai rilis data ekonomi mulai dari data indeks manajer pembelian (Purchasing Manager's Index/PMI) manufaktur, inflasi hingga data wisatawan mancanegara.

PMI manufaktur Indonesia bulan Februari tercatat berada di posisi 51,2 lebih rendah dari bulan sebelumnya di angka 53,7 atau turun 2,5 poin.

Meskipun mengalami penurunan, tetapi aktivitas manufaktur RI diperkirakan tetap ekspansif karena berada di atas ambang batas angka 50.

Perlambatan terjadi kemungkinan disebabkan oleh kenaikan kasus infeksi virus corona (Covid-19) yang terjadi sejak awal tahun 2022.

Kemudian selanjutnya ada rilis inflasi. Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia terpantau mengalami deflasi 0,02% secara bulanan (month-to-month/mtm) di bulan Februari 2022. Sementara itu secara tahunan (year-on-year/yoy), IHK naik 2,06%.

Berbeda dengan negara lain yang mengalami inflasi yang tinggi, di Indonesia inflasi bukanlah masalah karena meskipun terjadi kenaikan sejak kuartal III-2021, kenaikannya masih berada di sasaran target Bank Indonesia (BI).

Hal inilah yang juga menjadi faktor masuknya asing ke dalam negeri dan mendorong aset keuangan domestik mengalami apresiasi harga karena perekonomian yang solid dan kondisi makro yang stabil.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), yield obligasi pemerintah (Treasury) terpantau cenderung kembali melemah pada hari ini, karena investor di AS masih terus memantau perkembangan dari konflik Rusia-Ukraina.

Dilansir dari CNBC International, yield obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor 10 tahun cenderung turun 8,9 bp ke level 1,75%, dari sebelumnya pada penutupan perdagangan Senin kemarin di level 1,839%.

Meski ketegangan antara Rusia dengan Ukraina hingga kini belum menunjukkan tanda damai, tetapi ada kabar sedikit melegakan di mana kedua negara tersebut berhasil menyelesaikan perundingan tahap pertamanya pada hari ini. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh kedua belah pihak.

Ke depan masih akan ada tahap lanjutan dari perundingan tersebut dan pasar menantikan babak selanjutnya dari hubungan kedua negara.

Bagaimanapun juga perundingan Rusia dan Ukraina tahap pertama menunjukkan adanya kemajuan dan perkembangan positif dan pasar pun meresponnya dengan positif juga.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Yield Treasury Sentuh 1,6% Pekan Lalu, Harga SBN Melemah


(chd/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading