Tak Bergantung Dolar AS, Ekonomi RI Perkasa & Tahan Banting

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
16 February 2022 12:30
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam acara Casual Talks On Digital Payment Innovation Of Banking. (Tangkapan layar via Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) dapat meredam gejolak ekonomi. Bagaimana caranya?

Perry menjelaskan, dalam mengelola normalisasi kebijakan ekonomi, terutama di dalam agenda G20 diperlukan kolaborasi dan perencanaan, dan komunikasi yang baik, serta perlunya penguatan infrastruktur keuangan global.

"Pengaturan keuangan regional dan bilateral melalui LCS dapat mendukung perdagangan dan investasi," jelas Perry dalam webinar yang menjadi rangkaian Pertemuan G20, Rabu (16/2/2022).

Lebih lanjut, Perry menjelaskan, pemulihan ekonomi global akan selalu dibayangi risiko yang juga harus diwaspadai. Terutama yang berasal dari normalisasi ekonomi di negara maju dan kenaikan Fed Fund Rate.

Imbas normalisasi ekonomi di negara maju dan naiknya suku bunga oleh The Fed tentu akan berimbang kepada negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

"Risiko normalisasi perlu kita pastikan dan masih dapat kita kelola dengan baik, dengan mendukung stabilitas ekonomi domestik," ujar Perry.

LCS adalah kerja sama Indonesia dengan sejumlah bank sentral negara lain, yang bertujuan untuk menggunakan mata uang lokal setiap kali berlangsung transaksi perdagangan bilateral dan investasi.

Nah, Perry memandang, bahwa dengan mengelola mata uang bilateral dapat mendukung pemulihan ekonomi bersama yang lebih kuat.

Indonesia saat ini telah melakukan perjanjian kerjasama dengan sejumlah negara seperti Malaysia, China, Jepang, dan Thailand dalam melakukan transaksi mata uang lokal atau LCS.

"Sebagai bagian dari mendukung stabilitas moneter dan sistem keuangan dengan memastikan mekanisme pasar yang berfungsi dengan baik, dan menghindari kondisi pasar yang tidak jelas," jelas Perry.

"Mekanisme ini akan melengkapi upaya untuk mendukung penggunaan mata uang lokal yang lebih luas untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi kegiatan ekonomi lintas batas antara dua negara," ujarnya lagi.

Disamping itu, kata Perry adanya kebijakan LCS ini kegiatan perdagangan dan investasi akan menjadi jauh lebih efisien. Karena pelaku usaha uda negara tidak perlu repot-repot menukar terlebih dahulu mata uangnya ke dolar Amerika Serikat (AS) lalu menukar kembali ke nilai tukar negara mitra.



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mesranya RI - China Berani Tinggalkan Dolar AS, Ini Buktinya!


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading