Padahal Sudah Delisting, Dapen Pupuk Kaltim Borong Saham DAJK

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
10 February 2022 18:35
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Pensiun (Dapen) PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) tercatat memiliki porsi kepemilikan di perusahaan kemasan kertas dan karton, PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo (dulu berkode DAJK) yang telah dinyatakan delisting (penghapusan pencatatan saham) dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal ini terungkap melalui data Kustodian Sentral Efek Indonesia di website BEI yang terbit pada Rabu kemarin (9/2/2022).

Menurut data KSEI, per Selasa (8/2), Dapen Pupuk Kaltim tercatat memiliki 147.187.900 saham atau setara dengan 5,89% dari total saham Dwi Aneka Jaya.


Sebelumnya, pada Senin (7/2), Dapen Pupuk Kaltim tercatat belum memiliki kepemilikan saham alias nol persen di perusahaan yang sudah hengkang dari bursa sejak Mei 2018 itu.

Selain Dapen Pupuk Kaltim, perusahaan lainnya yang tercatat menggenggam saham Dwi Aneka Jaya adalah PT Anugerah Pratama Internasional. PT Anugerah Pratama tercatat memiliki 50,49% pada Selasa kemarin, jumlah tersebut tidak berubah dari posisi Senin lalu.

Dalam laporan per 30 September 2017 Dwi Aneka Jaya, PT Anugerah Pratama sudah tercatat menjadi pemegang saham mayoritas Dwi Aneka dengan persentase kala itu mencapai 58,98%.

Hingga artikel ini ditulis, belum didapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai transaksi pembelian saham Dwi Aneka Jaya oleh Dapen Pupuk Kaltim.

Sekadar informasi, Dapen Pupuk Kaltim tergabung dalam Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), sebagaimana dapat dilihat di website ADPI. Sementara, Pupuk Kaltim adalah anak usaha dari PT Pupuk Indonesia (Persero) ini.

Sekilas soal Dwi Aneka Jaya Kemasindo

Setelah dinyatakan pailit pada November 2017,Dwi Aneka Jaya Kemasindo dinyatakan delisting BEI. Menurut informasi keterbukaan BEI, penghapusan pencatatan perusahaan yang dahulu bersandi DAJK tersebut efektif sejak tanggal 18 Mei 2018.

Dengan demikian, Dwi Aneka tidak lagi memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat dan BEI akan menghapus nama Dwi Aneka dari daftar perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI.

Sebelum 'ditendang' bursa, pada 23 November 2017, DAJK dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat setelah tuntutan dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) selaku kreditur dikabulkan. DAJK memiliki utang sebesar Rp 428,27 miliar pada BMRI.

Selain itu, pada laporan keuangan perseroan hingga September 2017, DAJK juga memiliki utang dengan beberapa perbankan lainnya.

Utang tersebut, pada waktu itu, kepada Standard Chartered Bank sebesar Rp 262,42 miliar, Bank Commonwealth sebesar Rp 50,47 miliar, Citibank N.A senilai Rp 26,62 miliar, serta Bank Danamon senilai Rp 9,9 miliar.

Apabila menilik data laporan keuangan per 30 September 2017, total liabilitas (kewajiban, utang) Dwi Aneka mencapai Rp 975,55 miliar, yang terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 62,23 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp 913,32 miliar.

Adapun liabilitas jangka panjang didominasi oleh utang bank senilai Rp 870,17 miliar. Sementara, total ekuitas perusahaan per akhir kuartal III 2017 hanya sebesar Rp 333,31 miliar.

Pada akhir kuartal III 2017, pendapatan Dwi Aneka sebesar Rp 15,21 miliar, turun drastis secara yoy dibandingkan posisi tahun sebelumnya Rp 246,11 miliar.

Sementara, perusahaan membukukan rugi bersih Rp 59,61 miliar, dari rugi periode yang sama 2017 sebesar Rp 296,22 miliar. Menurut laporan tahunan perusahaan pada 2016, perseroan berdiri didirikan oleh Andreas Chaiyadi, Karwandi Lingkaran dan Djafar Lingkaran pada 1996.

Pada tahun itu, perusahaan menyewa gudang di Dadap Tangerang seluas (300 m2). Dwi Aneka juga mulai memproduksi karton kemasan gelombang dengan mesin slitter dan slotter.

Selang 18 tahun kemudian, pada 14 Mei 2014 Dwi Aneka melantai di BEI dengan menerbitkan 1 miliar saham dengan harga penawaran Rp 470/saham. Perseroan bergerak dalam bidang perindustrian, perdagangan umum, jasa, pengangkutan, percetakan dan lainnya.

Adapun, kegiatan utama Dwi Aneka dalam bidang perindustrian yaitu percetakan serta pembuatan berbagai bentuk kemasan dengan bahan dasar kertas maupun karton.

Pada bidang perdagangan, perseroan menjalankan usaha ekspor dan impor, perdagangan besar lokal, grosir, supplier, leveransir, dan commission house, distributor, agen, dan sebagai perwakilan dari badan-badan perusahaan, termasuk perdagangan minuman baik lokal maupun luar negeri.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Naik 37,1%, Laba Bank Mandiri Q3-2021 Capai Rp 19,2 Triliun


(adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading