Friksi Ukraina-Rusia Ikut Bikin Harga Minyak Rekor sejak 2014

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
06 February 2022 12:45
Pengerjaan Proyek-Proyek Strategis Kilang Pertamina. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melesat melesat sepanjang pekan hingga menyentuh level tertinggi sejak 2014.

Lesatan harga minyak terjadi di tengah kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang dipicu oleh musim dingin di Amerika Serikat (AS) dan gejolak politik yang sedang berlangsung di antara produsen minyak utama.

Menurut data Refinitiv, pada Jumat (4/2), harga minyak jenis brent berada di US$ 93,27/barel, melesat 3,60% dalam sepekan terakhir. Minyak brent tertinggi setidaknya sejak Oktober 2014.


Sementara, harga minyak jenis WTI atau light sweet berada di level US$ 92,31/barel, tertinggi sejak September 2014. Dalam sepekan, harga minyak WTI melejit 6,32%.

Musim dingin yang cukup ekstrem di Amerika Serikat (AS) mendongkrak harga si emas hitam. Gelombang udara dingin sejauh ini telah membuat lebih dari 200.000 juta jiwa kehilangan pasokan listrik. Mereka akan beralih ke genset, yang membutuhkan Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Ada histeria, ada ketakutan. Ini membuat harga minyak terangkat," ujar Bob Yawger, Director of Energy Futures di Mizuho, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, pelaku pasar juga terus memantau ketegangan di perbatasan Ukraina yang melibatkan Rusia. Apalagi kini AS dan sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai menunjukkan sikap yang mengarah ke agresif.

Presiden AS Joseph 'Joe' Biden akhirnya menggerakkan 'bidak catur'. Biden memerintahkan hampir 3.000 pasukan Negeri Adidaya ke Eropa Timur dalam upaya menggertak Rusia.

"Selama Presiden Putin (Vladimir Putin, Presiden Rusia) bersikap agresif, kami memastikan bahwa sekutu kami di NATO ada di sana," tegas Biden, seperti diwartakan dari Reuters.

Jika ketegangan ini sampai menyebabkan konfrontasi bersenjata alias perang (amit-amit jabang bayi), maka harga minyak bakal terpengaruh. Sebab Rusia adalah salah satu produsen dan eksportir minyak utama dunia. Perang tentu akan menghambat produksi dan distribusi minyak Negeri Beruang Merah.

"Tensi yang meningkat di Ukraina adalah sesuatu yang kuat. Dengan meningkatnya permintaan, hal ini bisa membuat pasokan tidak bisa memenuhinya," kata Gary Cunningham, Director of Market Research di Tradition Energy, sebagaimana diberitakan Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pekan Pertama 2022, Harga Minyak Dunia Melejit 5%


(adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading