Dolar Lagi Lesu, Mata Uang Asia Kembali Bergairah

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
01 February 2022 19:00
FILE PHOTO: A Japan Yen note is seen in this illustration photo taken June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa pasar mata uang di Asia masih dibuka pada hari ini, di mana secara mayoritas menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data pasar pukul 15:00 WIB, hanya rupee India, dan dolar Taiwan yang melemah di hadapan sang greenback pada hari ini. Sedangkan untuk peso Filipina terpantau stagnan.

Sementara untuk perdagangan mata uang yuan China dan rupiah pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur memperingati Tahun Baru China atau Imlek.


Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang Benua Kuning pada perdagangan hari ini:

Mata Uang Asia

Jika seandainya perdagangan rupiah dibuka pada hari ini, maka ada kemungkinan rupiah kembali menguat melawan sang greenback.

Pada perdagangan Senin kemarin, dolar AS ditutup melemah dan menjadi koreksi harian terbesar sejak November 2021, karena investor mengkonsolidasikan keuntungannya setelah mencapai level tertinggi satu hingga satu setengah tahun pada Jumat pekan lalu di tengah ekspektasi laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh bank sentral AS.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada pekan lalu dengan jelas mengisyaratkan bahwa mereka akan menaikkan suku bunga acuannya secepat mungkin yakni pada pertemuan kebijakan 15-16 Maret.

Para bank-bank di Wall Street memprediksi bahwa The Fed akan menaikan suku bunganya setidaknya lima hingga tujuh kali pada tahun ini.

Fed funds futures pada Senin malam telah memperkirakan hanya di bawah lima kenaikan untuk tahun 2022, atau sekitar 121 basis poin (bp). Mereka juga memperkirakan adanya peluang sebesar 17% untuk kenaikan 50 bp di bulan Maret, turun dari setinggi 32% pada Jumat lalu.

"Dominasi dolar sebagian besar telah diperhitungkan karena The Fed sekarang tampaknya siap untuk memberikan kenaikan suku bunga sebanyak 5-7 kali pada tahun ini," kata Edward Moya, senior analyst di OANDA, dalam laporan riset hariannya, dikutip dari Reuters.

Investor juga memantau perilisan data penggajian non-pertanian (non-farm payrolls/NFP) AS yang akan dirilis pada Jumat pekan ini, di mana data ini akan digunakan oleh The Fed untuk menentukan perlu dipercepat atau tidaknya kenaikan suku bunga acuan.

Analis dalam survei Reuters memperkirakan NFP akan mengalami kenaikan sebanyak 153.000 pekerjaan untuk Januari, turun dari 199.000 pada Desember 2021, dengan tingkat pengangguran tetap stabil di 3,9%.

Di lain sisi pada perdagangan kemarin, sentimen dari Negeri Tirai Bambu yaitu yuan China meroket di level tertinggi terhadap dolar AS dari tiga setengah tahun lalu.

Mengacu kepada Reuters, pemerintah Cina wajarnya akan menjaga stabilitas pasar keuangan selama acara-acara penting berlangsung. Seperti yang diketahui, Cina akan mengadakan Olimpiade Musim Dingin di Beijing dan akan disusul oleh pertemuan parlemen tahunan pada bulan Maret.

Permintaan perusahaan yang besar untuk mata uang yuan pada saat libur Tahun Baru Imlek dapat membantu yuan Cina mencapai titik tertingginya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI-China Tinggalkan Dolar AS, Yuan Paling Diuntungkan?


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading