Rupiah Libur, Mayoritas Mata Uang Asia Dilibas Dolar Hari Ini

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
17 August 2022 17:58
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang di Asia berakhir kekok di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/8), setelah sempat dibuka menguat. Rupiah hari ini tidak diperdagangkan karena pasar keuangan Indonesia ditutup untuk memperingati Hari Kemerdekaan.

Melansir Refinitiv, yuan China menjadi mata uang terbaik di Asia, di mana berhasil melibas dolar AS sebanyak 0,12%. Kemudian di susul oleh peso Filipina yang menguat tipis 0,03%.

Sementara itu dolar Hong Kong tercatat stagnan dengan baht Thailand dan ringgit Malaysia terkoreksi tipis.


Pelemahan mata uang di Asia ditopang oleh menguatnya dolar AS di pasar spot di sore hari, setelah sempat melemah pada perdagangan pagi. Pukul 17.11 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang dunia lainnya bergerak menguat 0,01% ke posisi 106,520.

Sebelumnya, pagi tadi pukul 09:12 WIB, indeks dolar AS sempat bergerak melemah 0,09% ke posisi 106,407. Namun, koreksi dolar AS tersebut masih terbatas dengan perdagangan relatif fluktuatif karena pada pasar masih menunggu rilis risalah dari pertemuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada bulan lalu.

Risalah The Fed akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya di September. Namun, pasar telah memprediksikan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Menurut alat ukur FedWatch milik CME group, para pelaku pasar melihat probabilitas sebesar 59,5% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 bp menjadi 2,75% - 3,0%. Sementara ekspektasi kenaikan suku bunga mencapai 75 bp sebesar 40,5%.

"Jadi, jika ada hal-hal yang mendorong kembali gagasan kenaikan suku bunga maka akan menetapkan suku bunga acuan hingga tahun depan, bisa menjadi katalis untuk pembalikan kelemahan dolar AS yang telah berkorelasi negatif dalam beberapa bulan terakhir," tutur Kepala Strategu FX Global di National Australia Ray Attrill dikutip Reuters.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading