Bursa Asia Mulai Bangkit! Tapi Nikkei Masih Loyo

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
26 January 2022 08:56
Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia dibuka menguat pada perdagangan Rabu (26/1/2022), di tengah kembali terkoreksinya bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa waktu setempat karena investor menanti hasil dari rapat bank sentral AS.

Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 0,51%, Shanghai Composite China bertambah 0,34%, Straits Times Singapura naik 0,22%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,38%.

Sedangkan untuk indeks Nikkei Jepang dibuka turun tipis 0,05% pada pagi hari ini.


Kabar kurang menggembirakan datang dari barat, di mana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini, karena kembali meningkatnya kasus virus corona (Covid-19), masih terganggunya rantai pasokan, dan inflasi global yang masih meninggi.

IMF dalam laporan yang diterbitkan Selasa kemarin memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) global akan tumbuh sebesar 4,4% pada 2022, lebih rendah dari prediksi sebelumnya sebesar 5,9%.

Di lain sisi, pergerakan bursa Asia pada hari ini cenderung berlawanan arah dari pergerakan bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin waktu setempat, di mana Wall Street kembali terkoreksi, setelah sempat bangkit pada Senin lalu waktu AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun 0,19% ke level 34.297,73, S&P 500 ambles 1,22% ke 4.356,43, dan Nasdaq Composite yang paling parah yakni ambruk 2,28% ke posisi 13.539,29.

Investor akan berfokus pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), di mana The Fed akan mengumumkan hasil rapatnya pada Rabu siang waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Investor menanti hasil rapat tersebut untuk kejelasan mengenai agenda kenaikan suku bunga. Mereka masih khawatir dengan potensi pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed.

Stimulus moneter yang digelontorkan The Fed saat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) melanda membuat Wall Street pada tahun lalu mencatat rekor tertinggi sepanjang masa berkali-kali.

Kini, stimulus tersebut sudah mulai dikurangi dan likuiditas bisa kembali terserap. Quantitative easing (QE) akan berakhir pada bulan Maret, dan The Fed diperkirakan akan langsung menaikkan suku bunga, bahkan bisa bertindak lebih agresif lagi.

Dalam notula rapat kebijakan moneter edisi Desember yang dirilis pada awal bulan ini, terungkap tidak hanya akan mengerek suku bunga sebanyak 3 kali di tahun ini, The Fed juga kemungkinan akan mengurangi nilai neracanya (balance sheet).

Sejak rilis notula The Fed, Wall Street terus mengalami kemerosotan.

Selain dari kekhawatiran pasar akan pengetatan kebijakan moneter The Fed, ketegangan geopolitik juga menambah ketidakpastian investor, dengan NATO menempatkan pasukan dengan status siaga. AS menempatkan pasukan dalam siaga tinggi sebagai tanggapan atas penumpukan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina.

Ketegangan di Ukraina ini membuat harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan pagi hari ini.

Per pukul 07:41 WIB, harga minyak jenis Brent berada di US$ 88,2 per barel. Melesat 2,24% dari posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan minyak jenis Light Sweet atau West Texas Intermediate (WTI), harganya melonjak 2,29% menjadi US$ 85,6 per barel.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Geger Evergrande! Indeks Shanghai Ambles, Nikkei Galau


(chd/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading