Wall Street Mulai Rebound, Tapi Kok Bursa Asia Masih Loyo?

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 January 2022 08:47
foto : Reuters Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia kembali dibuka melemah pada perdagangan Selasa (25/1/2022), meski bursa saham Amerika Serikat (AS) sudah mulai berbalik arah (rebound) ke zona hijau pada penutupan perdagangan Senin kemarin waktu AS.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,37%, Hang Seng Hong Kong ambles 1,5%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,41%, Straits Times Singapura merosot 1%, dan KOSPI Korea Selatan turun 0,14%.

Dari Korea Selatan, data awal dari pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 telah dirilis pada pagi hari ini. Bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK) melaporkan data awal dari Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2021 tumbuh 1,1% secara basis kuartalan (quarter-to-quarter/QoQ), dari sebelumnya pada kuartal III-2021 yang tumbuh 0,3%.

Sedangkan secara tahunan (year-on-year/YoY) PDB Negeri Ginseng pada kuartal IV-2021 naik 4,1%, tidak jauh berbeda dari kenaikan kuartal IV-2020 yang sebesar 4%.

Hal ini berkat tumbuhnya ekspor Negeri Ginseng hingga mencetak rekor, meskipun masih ada perlambatan dalam investasi modal yang membuat prospek pertumbuhan pada tahun 2021 cenderung turun.

Ekonomi Korea Selatan telah mengalami lonjakan tajam, meski masih cenderung tidak merata dari kemerosotan virus Corona (Covid-19) pada tahun 2020. Ekspor tumbuh pada laju tahunan tercepat dalam 11 tahun, sementara pemulihan konsumsi masih belum merata karena masih adanya pembatasan sosial (social distancing).

Namun meski data awal PDB Korea Selatan positif, bursa sahamnya cenderung melemah pada hari ini, karena investor di Negeri Ginseng juga masih khawatir dengan potensi pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Di lain sisi, pasar saham Asia cenderung kembali terkoreksi, meskipun bursa saham AS, Wall Street mulai pulih dari koreksinya.

Indeks Dow Jones ditutup menguat 0,29% ke level 34.364,50, S&P 500 bertambah 0,28% ke 4.410,28, dan Nasdaq Composite melesat 0,63% ke posisi 13.855,13.

Kejatuhan pasar saham Negeri Paman Sam pada pekan lalu dimaknai sebagai peluang oleh para investor, karena harganya dianggap sudah murah. Akhirnya terjadi pembelian yang mendorong indeks ke wilayah positif.

"Saya tidak akan terkejut jika hari ini adalah titik terendah untuk rata-rata utama," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi CFRA Research di New York.

Sentimen positif lainnya bagi Wall Street adalah musim laporan keuangan yang sejauh ini berjalan cukup memuaskan. Dari 65 perusahaan yang sudah merilis laporan keuangannya di S&P 500, 77% memiliki kinerja yang melampaui ekspektasi.

Sementara itu pada pekan ini, fokus investor tertuju pada rapat komite pengambil kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC), yang akan dilaksanakan pada 25-26 Januari 2022. Pernyataan dari sang ketua yakni Jerome Powell paling dinanti karena diharapkan memberi petunjuk mengenai kapan kenaikan suku bunga The Fed dilakukan.

"Saya pikir investor terlalu berasumsi tentang sikap The Fed yang sangat hawkish. Memang, inflasi tinggi dan kemungkinan akan meningkat sebelum mulai menurun. Secara khusus kami melihat CPI utama mencapai 7,3% untuk Januari dan Februari, tetapi kemudian turun menjadi 3,5% pada akhir tahun," kata Stovall.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Geger Evergrande! Indeks Shanghai Ambles, Nikkei Galau


(chd/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading