Analisis Teknikal

Jadi Jawara Asia di Sesi 1, IHSG Bisa Lanjut Ngegas Sesi 2 ?

Market - Putra, CNBC Indonesia
21 January 2022 12:43
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,54% di level 6.662,74 pada sesi I perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (21/1/2022).

Indeks dibuka melemah tipis 0,01% di level 6.626,35. Selang beberapa menit, IHSG langsung terkoreksi cukup dalam 0,29% ke level 6.607,42 sebagai level terendahnya dalam perdagangan sesi I.

Setelah itu IHSG rebound dan sempat menyentuh level tertingginya di 6.663,15. Data perdagangan mencatat, sebanyak 248 saham menguat, 255 saham melemah dan 161 saham stagnan.


Nilai transaksi di sesi I mencapai Rp 6,23 triliun. Asing masih beli bersih saham domestik senilai Rp 227,3 miliar di pasar reguler.

Hingga siang ini, mayoritas bursa saham utama Asia bergerak di zona merah. IHSG kali ini memimpin penguatan dan indeks Nikkei 225 Jepang memimpin pelemahan dengan koreksi 1,62%.

Bursa Asia yang merah tak terlepas dari kinerja indeks saham Wall Street semalam yang juga ambruk. Indeks Dow Jones turun 0,86%.

Kemudian indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite melemah masing-masing sebesar 1,15% dan 1,30%. Yield obligasi pemerintah AS masih tetap berada di level tertingginya.

Untuk yield obligasi tenor 2 tahun sudah berada di atas 1% yang mengindikasikan bahwa pasar mulai mengantisipasi pengetatan moneter yang dilakukan oleh the Fed.

Kemudian dari China, bank sentralnya (PBoC) justru melakukan tindakan yang berbeda. Kebijakan moneter dilonggarkan dengan menurunkan suku bunga acuan 1 tahun dan 5 tahun sebesar 10 bps dan 5 bps.

Pelonggaran tersebut dikarenakan China sedang mengalami perlambatan ekonomi akibat kenaikan kasus Covid-19, kenaikan harga bahan baku hingga perlambatan sektor properti.

Dari dalam negeri kemarin BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 3,5%. Namun BI memulai langkah normalisasi dengan menaikkan GWM rupiah untuk bank konvensional, komersial dan syariah mulai Maret 2022.

Melihat pergerakan indeks yang menguat di sesi I, bagaimanakah arah pergerakan IHSG di sesi II nanti? Berikut analisis teknikalnya.

Analisis Teknikal

TeknikalFoto: Putra
Teknikal

Pergerakan IHSG dengan menggunakan periode jam (hourly) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat posisi penutupan sesi I, IHSG bergerak mendekati level resisten terdekatnya di 6.664,52. Sedangkan untuk level support terdekat IHSG berada di 6.609,82.

Apabila melihat indikator Relative Strength Index (RSI), saat ini IHSG berada di area 60,01, masih belum menunjukkan level jenuh beli maupun jenuh jualnya.

Namun tren cenderung meningkat mengindikasikan adanya tekanan beli yang meningkat. Sebagai informasi, indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Apabila menggunakan indikator teknikal lain yakni Moving Average Convergence Divergence (MACD), garis EMA 12 berada di atas garis EMA 26 dan membentuk pola divergen. Di sisi lain bar histogram indikator MACD juga sudah berada di teritori positif.

Secara teknikal, IHSG masih memiliki ruang untuk menguat. Apabila indeks mampu menembus level resisten terdekatnya di 6.664,52 maka IHSG berpeluang melanjutkan penguatan ke level 6.677.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terperangkap di Fase Sideways, IHSG Tinggalkan Level 6.100-an


(trp/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading