Warning! Harga Bitcoin Cs Masih Nyungsep, Ini Penyebabnya

Market - chd, CNBC Indonesia
20 January 2022 11:15
Gambar Cover, Cryptocurrency Ambrol

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas kripto terpantau kembali melemah pada perdagangan Kamis (20/1/2022) pagi waktu Indonesia, karena investor dan trader menilai bahwa sentimen pasar global masih cenderung negatif.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:30 WIB, hanya kripto stablecoin yakni USD Coin yang naik tipis pada hari ini. Sedangkan sisanya kembali terkoreksi.

Bitcoin melemah 1,59% ke level harga US$ 41.726,06/koin atau setara dengan Rp 597.517.179/koin (asumsi kurs Rp 14.320/US$), Ethereum merosot 2,08% ke level 3.099,75/koin atau Rp 44.388.420/koin, dan Cardano ambruk hingga 12,97% ke US$ 1,32/koin (Rp 18.902/koin).


Berikut pergerakan 10 kripto besar berdasarkan kapitalisasi pasarnya pada hari ini.

Kripto

Pada hari ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran level US$ 41.000, setelah beberapa hari sebelumnya sempat bertahan di kisaran level US$ 42.000. Masih lesunya Bitcoin dan kripto lainnya terjadi setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Rabu waktu setempat.

Hal ini karena investor masih khawatir dari kondisi makroekonomi global yang tidak pasti, termasuk masih adanya kendala rantai pasokan, pandemi virus corona (Covid-19), meningkatnya inflasi, dan pengetatan kebijakan moneter bank sentral.

"Pasar mencerna beberapa hal, dan aset berisiko seperti kripto masih akan lesu selama kondisi makroekonomi global dinilai masih bergejolak dan mengarah ke negatif," kata Greg King, pendiri sekaligus CEO Osprey Funds, dikutip dari CoinDesk.

King pun mencatat bahwa dampak inflasi terhadap ekonomi, dapat mempengaruhi daya beli dan investasi di aset berisiko seperti saham dan kripto. Dia juga menyoroti korelasi antara penurunan saham teknologi dan kripto baru-baru ini.

Kembali terkoreksinya pasar saham tersebut terjadi setelah rilis laporan keuangan perusahaan AS yang beragam dan seiring sikap investor yang terus khawatir soal imbal hasil (yield) obligasi pemerintah (Treasury) AS yang lebih tinggi serta adanya pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Indeks saham AS memang sudah mengalami masa sulit sejak awal 2022, seiring kenaikan cepat yield Treasury di tengah kekhawatiran The Fed akan menjadi agresif dalam mengendalikan inflasi yang terutama akan memukul saham pertumbuhan dan teknologi.

Melansir CNBC International, yield Treasury AS bertenor 10 tahun sempat mencapai 1,9% pada Rabu kemarin, menjadi level tertinggi sejak Desember 2019.

Sebelumnya pada Selasa waktu setempat, melonjaknya yield obligasi pemerintah Negeri Paman Sam mendorong aksi jual saham, utamanya saham teknologi dan pertumbuhan.

Bahkan, yield Treasury berjatuh tempo 2 tahun yang mencerminkan ekspektasi suku bunga jangka pendek sempat mencapai 1% untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.

Meski risiko di pasar masih cenderung besar, tetapi King tetap berpandangan bullish dan pasar kripto akan rebound dalam jangka panjang.

"Meski kondisi pasar belum mendukung dalam jangak pendek, tetapi kami tetap berpandangan bullish di aset kripto dan saya menduga bahwa pada akhir tahun 2022 nilai kripto akan jauh lebih tinggi daripada saat ini," ujar King.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bitcoin-Solana-Terra Bergairah, Tapi Sisanya Masih Loyo


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading