Bitcoin-Solana-Terra Bergairah, Tapi Sisanya Masih Loyo

Market - chd, CNBC Indonesia
19 January 2022 10:40
Ilustrasi Bitcoin  (Photo by André François McKenzie on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kripto berkapitalisasi pasar besar terpantau melemah pada perdagangan Rabu (19/1/2022) pagi waktu Indonesia, di tengah koreksinya pasar saham global dan naiknya kembali imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:25 WIB, hanya Bitcoin, Solana, dan Terra yang bergerak di zona hijau pada pagi hari ini.

Bitcoin menguat 0,48% ke level harga US$ 42.430,62 per koin atau setara dengan Rp 608.879.397 per koin (asumsi kurs Rp 14.350/US$), Solana bertambah 0,99% ke level US$ 141,54 per koin atau Rp 2.031.099 per koinnya, dan Terra melesat 3,02% ke US$ 79,75 per koin (Rp 1.144.413 per koin).


Sedangkan sisanya kembali terkoreksi pada pagi hari ini. Ethereum melemah 1,46% ke level US$ 3.167,27 per koin atau Rp 45.450.325 per koin, Cardano ambles 6,5% ke US$ 1,51 per koin (Rp 21.669 per koin), dan Polkadot terkoreksi 2,05% ke US$ 25,22 per koin (Rp 361.907 per koin).

Berikut pergerakan 10 kripto besar berdasarkan kapitalisasi pasarnya pada hari ini.

Kripto

Meski menguat cenderung tipis, tetapi Bitcoin masih diperdagangkan di kisaran level US$ 42.000. Hal ini karena selera risiko investor masih cenderung rendah karena masih adanya katalis negatif di pasar keuangan global, di mana mereka masih cenderung mencerna katalis dari potensi pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Masih cenderung lesunya pasar kripto pada pagi hari ini terjadi setelah yield obligasi pemerintah AS (Treasury) kembali melonjak, di mana yield Treasury bertenor 10 tahun naik ke kisaran level 1,8%.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury bertenor 10 tahun naik sebesar 10,5 basis poin (bp) ke level 1,877% pada pukul 16:00 waktu setempat.

Bahkan, Treasury berjatuh tempo 2 tahun saja naik ke atas level 1% untuk pertama kalinya sejak Februari 2020, atau sebulan sebelum pengumuman pandemi yang mengirim ekonomi AS ke dalam resesi.

Treasury tenor 2 tahun sensitif terhadap kenaikan suku bunga acuan. Treasury ini dipandang sebagai patokan di mana The Fed akan menetapkan suku bunga pinjaman jangka pendek.

Melonjaknya yield Treasury membuat investor kembali melepas saham-saham teknologi di AS dan turut menjadi sentimen negatif bagi pasar kripto.

Dalam dua pekan lebih, investor masih mencerna sentimen dari potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Para analis dan investor menduga bahwa The Fed akan menaikan suku bunga acuannya lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni pada Maret mendatang. Mereka juga memperkirakan suku bunga The Fed akan naik ke level 0,25% - 0,5%.

Di tengah masih minimnya selera risiko investor di pasar kripto, volume perdagangan spot Bitcoin kini berada di level terendahnya dalam enam bulan terakhir.

"Ketakutan yang berkepanjangan, bersama dengan volatilitas rendah baru-baru ini, mungkin membuat para trader ragu-ragu untuk bergerak," tulis Arcane Research dalam riset hariannya, dikutip dari CoinDesk.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Peduli Inflasi AS Panas, Bitcoin-Ethereum Dkk Hijau


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading