Wall Street Ambruk Lagi, Bursa Asia Dibuka Mixed

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
19 January 2022 08:47
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, July 10, 2019. Asian shares were mostly higher Wednesday in cautious trading ahead of closely watched congressional testimony by the U.S. Federal Reserve chairman. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka cenderung bervariasi pada perdagangan Rabu (19/1/2022), di tengah koreksinya kembali bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa kemarin waktu setempat.

Indeks Nikkei Jepang dibuka ambles 1,19%, Shanghai Composite China turun tipis 0,08%, dan KOSPI Korea Selatan merosot 0,77%.

Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka naik 0,18% dan Straits Times (STI) Singapura menguat 0,36%.


Cenderung variatifnya bursa Asia pagi hari ini terjadi di tengah koreksinya kembali bursa AS, Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin waktu setempat, setelah pada perdagangan Senin lalu tidak dibuka karena sedang libur memperingati hari Martin Luther King (MLK).

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup ambles 1,51% ke level 35.368,469, S&P 500 ambruk 1,84% ke 4.577,11, dan Nasdaq Composite anjlok 2,6% ke posisi 14.506,90.

"Pasar ekuitas global kembali terkoreksi, karena pelaku pasar menduga bahwa bank sentral Amerika Serikat akan menaikkan suku bunganya lebih cepat untuk mengendalikan inflasi yang masih panas," tulis ANZ Research dalam laporan riset hariannya, dikutip dari CNBC International.

Koreksinya kembali bursa saham Negeri Paman Sam terjadi di tengah melonjaknya kembali imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), di mana pada perdagangan kemarin, yield Treasury bertenor 10 tahun sudah berada di kisaran level 1,8%.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury bertenor 10 tahun naik sebesar 10,5 basis poin (bp) ke level 1,877% pada pukul 16:00 waktu setempat.

Bahkan, Treasury berjatuh tempo 2 tahun saja naik ke atas level 1% untuk pertama kalinya sejak Februari 2020, atau sebulan sebelum pengumuman pandemi yang mengirim ekonomi AS ke dalam resesi.

Treasury tenor 2 tahun sensitif terhadap kenaikan suku bunga acuan. Treasury ini dipandang sebagai patokan di mana bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menetapkan suku bunga pinjaman jangka pendek.

Melonjaknya yield Treasury membuat investor melepas saham-saham teknologi di AS dan turut memperberat pergerakan indeks Nasdaq kemarin.

Selain itu, perilisan kinerja keuangan beberapa perusahaan di AS pada kuartal IV-2021 yang cenderung mengecewakan bagi pelaku pasar juga menjadi salah satu penyebab Wall Street terkoreksi kembali.

Seperti halnya di perusahaan bank investasi AS, yakni Goldman Sachs, di mana pendapatan kuartal keempat bank tersebut meleset dari ekspektasi analis. Sedangkan, biaya operasional Goldman melonjak 23% seiring kenaikan gaji para karyawan Wall Street.

Hal ini membuat saham Goldman sendiri ditutup ambles nyaris 7% dan menjadi salah satu saham pemberat indeks Dow Jones kemarin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Geger Evergrande! Indeks Shanghai Ambles, Nikkei Galau


(chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading