Analisis Teknikal

Dolar Paman Sam Sedang Strong, Rupiah Bisa DIbuat Bonyok!

Market - Putra, CNBC Indonesia
19 January 2022 07:20
Uang 50 koin Cendrawasih. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,14% di level Rp 14.335/US$ di pasar spot pada perdagangan kemarin (18/1/2022).

Pelemahan mata uang Garuda juga bertepatan dengan kinerja greenback yang sedang memanas. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap mata uang lain menguat ke level tertinggi sepekan.

Pada perdagangan waktu Asia kemarin, indeks dolar AS berada di posisi 95.454 dan merupakan level tertinggi dalam 6 hari.


Penguatan dolar AS menyusul kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Untuk obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun, yield sudah naik ke atas 1%. Sedangkan untuk tenor 10 tahun menguat ke level tertingginya dalam 2 tahun terakhir.

Bank sentral AS dijadwalkan bakal melakukan rapat minggu depan. Pelaku pasar mengantisipasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali di bulan Maret 2022.

Peluang pengetatan kebijakan moneter inilah yang membuat mata uang negara berkembang termasuk rupiah melemah.

Di sisi lain kabar tak sedap juga datang dari dalam negeri. Kasus infeksi Covid-19 di Indonesia terus mencatatkan pemburukan.

Jika hingga akhir tahun lalu kasus infeksi harian Covid-19 masih konsisten di bawah 500, kini naik dan sempat menyentuh angka 1.000 kasus per hari.

Kenaikan kasus infeksi Covid-19 juga dikaitkan dengan penyebaran varian baru jenis Omicron yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan akhir tahun lalu.

Kasus pertama Omicron di Indonesia dilaporkan pada pertengahan bulan Desember lalu. Jumlah kasus Covid-19 Omicron di Tanah Air setiap harinya bertambah semakin banyak.

Para ahli termasuk pemerintah memperkirakan puncak kasus Covid-19 Omicron di dalam negeri akan terjadi pada awal bulan Februari.

Selain perkembangan kedua sentiment di atas, pelaku pasar juga perlu mencermati aspek lain yaitu faktor teknikal dari rupiah untuk melihat arah pergerakan mata uang Garuda hari ini.

Analisis Teknikal

TeknikalFoto: Putra
Teknikal

Pergerakan rupiah dianalisis dengan menggunakan periode harian (daily) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat posisi penutupan kemarin, rupiah tampaknya sudah menyelesaikan periode konsolidasinya dan bersiap memulai tren pelemahan.

Hal ini terlihat dari gagalnya rupiah untuk menembus level resisten terdekatnya di Rp 14.289/US$. Kemarin rupiah juga bergerak mendekati level supportnya di Rp 14.381/US$.

Apabila melihat indikator Relative Strength Index (RSI) yang mengukur tekanan beli dan jual, saat ini masih berada di area netral di 55,06. Namun tekanan jual mulai meningkat.

Sebagai informasi, Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Namun apabila menggunakan indikator teknikal lain yakni Moving Average Convergence Divergence (MACD), garis EMA 12 dan garis EMA 26 untuk dolar AS cenderung melebar membentuk pola divergen.

Di sisi lain, batang histogram untuk dolar AS tetap berada di zona positif. Ini harus diwaspadai karena membuka peluang untuk rupiah terkoreksi setidaknya ke level support terdekatnya di Rp 14.350/US$.

Rupiah perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Analisis Stabilitas Rupiah Jelang Tapering Off The Fed


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading