Batu Bara Tembus US$ 200/Ton, Saham Produsennya 'Kesetanan'

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
17 January 2022 09:47
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten batu bara menguat di awal perdagangan hari ini, Senin (17/1/2022). Ini terjadi seiring harga batu bara kembali menembus level psikologis US$ 200/ton pada akhir pekan lalu.

Berikut kinerja saham batu bara berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.13 WIB.

  1. Bayan Resources (BYAN), naik +9,84%, ke Rp 33.475/saham


  2. TBS Energi Utama (TOBA), +4,44%, ke Rp 1.175/saham

  3. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), +4,29%, ke Rp 73/saham

  4. Indo Tambangraya Megah (ITMG), +1,93%, ke Rp 21.100/saham

  5. Indika Energy (INDY), +1,80%, ke Rp 1.700/saham

  6. Alfa Energi Investama (FIRE), +1,76%, ke Rp 346/saham

  7. Prima Andalan Mandiri (MCOL), +1,74%, ke Rp 3.500/saham

  8. Golden Eagle Energy (SMMT), +1,72%, ke Rp 236/saham

  9. Mitrabara Adiperdana (MBAP), +1,69%, ke Rp 3.600/saham

  10. Delta Dunia Makmur (DOID), +1,63%, ke Rp 250/saham

  11. Bumi Resources (BUMI), +1,49%, ke Rp 68/saham

  12. Adaro Energy (ADRO), +1,32%, ke Rp 2.300/saham

  13. United Tractors (UNTR), +1,17%, ke Rp 23.800/saham

  14. Harum Energy (HRUM), +0,91%, ke Rp 11.100/saham

  15. Resource Alam Indonesia (KKGI), +0,74%, ke Rp 274/saham

  16. ABM Investama (ABMM), +0,72%, ke Rp 1.405/saham

  17. Golden Energy Mines (GEMS), +0,36%, ke Rp 7.000/saham

  18. Bukit Asam (PTBA), +0,35%, ke Rp 2.840/saham

Menurut data di atas, saham BYAN memimpin kenaikan 9,84% ke Rp 33.475/saham, melanjutkan kenaikan dalam 4 hari terakhir. Dengan ini, dalam sepekan saham BYAN melesat 18,86%.

Saham TOBA juga terkerek naik 4,44% ke posisi Rp 1.175/saham, rebound dari koreksi dalam 2 hari belakangan.

Setali tiga uang, saham BOSS dan ITMG juga masing-masing terapresiasi 4,29% dan 1,93% pagi ini.

Harga batu bara termal Newcastle sepekan lalu melesat dan melewati level psikologis US$ 200/ton, menyusul ketakpastian seputar pasokan batu bara dunia akibat kebijakan pengetatan impor Indonesia.

Pada Jumat (14/1/2022) harga kontrak berjangka teraktif batu bara di pasar New Castle ditutup melesat 2,48% ke US$ 216,75/ton. Level itu merupakan tertinggi sejak 29 Oktober 2021, yang saat itu berada di angka US$ 223,45/ton.

Selama sepekan, tak sekalipun harga energi pemasok listrik dunia tersebut terkoreksi, sehingga mencetak reli mingguan sebesar 10,64% ke level psikologis 200. Reli ini melanjutkan pekan lalu yang juga menguat, sebesar 15,51%, ke angka US$ 195,9/ton.

Pemicu lonjakan harga batu bara tak lain adalah kebijakan larangan ekspor batu bara yang diumumkan batu-baru ini, menyusul kritisnya pasokan di dalam negeri karena tak diberlakukannya Domestic Market Obligasion (DMO).

Meski Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengumumkan pelonggaran, dan mengoreksi sikap yang diumumkan Presiden Joko Widodo sebelumnya, pasar batu bara dunia masih melihat ketakpastian karena belum adanya solusi berkelanjutan mengenai pasokan batu bara untuk pembangkit listrik di Indonesia.

Indonesia saat ini merupakan eksportir utama batu bara termal di dunia dengan volume ekspor mencapai 400 juta ton (2020), atau setara dengan 40% dari ekspor batu bara jenis pembangkit listrik tersebut yang beredar di pasar global-menurut data International Energy Agency (IEA).

Indonesia sekalipun berada di posisi keempat dunia dari sisi produksi batu bara global, saat ini menjadi net exporter terbesar batu bara termal. Dua produsen terbesar batu bara, yakni China dan India, saat ini menjadi net importer batu bara thermal.

Australia sebagai salah satu produsen batu bara utama dunia mengekor Indonesia dengan ekspor batu bara termal sebanyak 213 juta ton, sementara Amerika Serikat (AS) justru mengimpor batu bara termal dari Indonesia, sebanyak 600.000 ton (2020).

Dengan strategisnya posisi batu bara nasional tersebut, larangan impor batu bara per Januari saja menurut proyeksi Tim Riset CNBC Indonesia bisa memangkas 30 juta pasokan batu bara di dunia.

Tidak heran, harga batu bara dunia meroket mengikuti kabar larangan ekspor Indonesia. Harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) bertambah nyaris US$ 50 per ton sepanjang tahun berjalan, atau sebesar 27,8%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ambles Berjamaah, Saham Batu Bara Diobral karena Ambil Untung


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading