Jelang Rilis PDB China Q4-2021, Bursa Asia Cenderung Cerah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
17 January 2022 08:46
A woman walks past an electronic board showing stock information at a brokerage house in Fuyang, Anhui province, China March 23, 2018. China Daily via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia dibuka menguat pada perdagangan Senin (17/1/2022), jelang rilis data pertumbuhan ekonomi China pada kuartal keempat tahun 2021.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melesat 0,81%, Shanghai Composite China menguat 0,13%, dan Straits Times Singapura terapresiasi 0,27%.

Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,17% dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi 0,32%.


Pada hari ini, China akan merilis data pertumbuhan ekonominya pada kuartal IV-2021 yang akan dirilis pada pukul 10:00 waktu setempat atau pukul 09:00 WIB.

Ekonom dalam polling Reuters memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Negeri Panda pada kuartal IV-2021 akan berkontraksi menjadi 3,6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, ekonom memperkirakan PDB China secara kuartalan (quarter-to-quarter/QoQ) akan tumbuh sedikit menjadi 1,1%.

Hal ini karena beberapa faktor seperti kembali diperketatnya pembatasan kegiatan masyarakat China untuk menahan virus corona (Covid-19) varian omicron agar tidak menyebar lebih meluas dan masih terjadinya permasalahan di sektor properti dan konsumsi China.

Bahkan pada pekan lalu, bank investasi Amerika Serikat (AS), Goldman Sachs memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2022, dari sebelumnya sebesar 4,8% menjadi 4,3%.

Selain data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021, China juga akan merilis data ekonomi lainnya, yakni data produksi industri dan penjualan ritel per Desember 2021.

Kedua data ekonomi diprediksi masih tumbuh, meski melambat dibandingkan dengan posisi November. Pasar memprediksi produksi industrial Negeri Panda pada Desember tahun lalu akan turun menjadi 3,6%, sedangkan penjualan ritel China diprediksi turun menjadi 3,7% pada Desember tahun lalu.

Di lain sisi, pergerakan bursa Asia pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan bursa saham AS, Wall Street yang ditutup bervariasi dengan mayoritas menghijau pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu.

Indeks Dow Jones ditutup melemah 0,56% ke level 35.911,809. Tetapi dua indeks utama lainnya berhasil menghijau, meski indeks S&P 500 hanya naik tipis-tipis. S&P 500 ditutup naik tipis 0,08% ke level 4.662,85 dan Nasdaq Composite menguat 0,59% ke posisi 14.893,75.

Kinerja saham perbankan yang telah mengungguli kinerja indeks Wall Street dalam beberapa pekan terakhir karena sentimen kenaikan suku bunga, terpukul secara luas akibat laporan keuangan yang mengecewakan investor. Walaupun metrik utama masih cukup kuat.

JPMorgan Chase, bank terbesar di AS dari sisi aset, melaporkan perolehan laba dan pendapatan yang melampaui perkiraan, tetapi sahamnya malah anjlok lebih dari 6%.

Pendapatan perusahaan dibantu oleh rilis cadangan kredit yang besar. Meski demikian CFO Jeremy Barnum memperingatkan perusahaan kemungkinan akan gagal mencapai target laba utama dalam dua tahun ke depan.

Sedangkan saham Citigroup turun hampir 1,3%. Perusahaan mampu melampaui perkiraan pendapatan tetapi menunjukkan penurunan laba hingga 26%. Saham Morgan Stanley dan Goldman Sachs, yang laporannya masih belum terbit hingga pekan ini, juga ikut turun.

Sementara itu, saham Wells Fargo naik hampir 3,7% setelah pendapatan bank melampaui ekspektasi. CEO Welss Fargo Charles Scharf mengatakan dalam rilisnya bahwa permintaan pinjaman meningkat pada paruh kedua tahun ini.

Di sisi data perekonomian, penjualan ritel Negeri Paman Sam turun 1,9% pada bulan Desember tahun lalu, lebih buruk dari penurunan 0,1% yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.

Pembacaan sentimen konsumen awal Januari dari University of Michigan juga lebih rendah dari yang diharapkan karena masyarakat AS melaporkan ekspektasi inflasi jangka panjang yang lebih tinggi.

Pada Rabu pekan lalu, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Desember tahun lalu menunjukkan lonjakan 7% secara tahunan, angka tertinggi dalam empat dekade.

Sementara Indeks Harga Produsen (IHP) AS pada Desember 2021 yang dirilis pada esok harinya mencerminkan kenaikan 9,7% dibandingkan periode yang sama. Namun, hasil tersebut lebih baik daripada yang dikhawatirkan beberapa investor.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Geger Evergrande! Indeks Shanghai Ambles, Nikkei Galau


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading