Rajin Tambah Kepemilikan di MTEL, INA Kalahkan SWF Singapura!

Market - Feri Sandria & Aldo Fernando, CNBC Indonesia
14 January 2022 12:00
Emiten menara telekomunikasi, PT  Dayamitra  Telekomunikasi  Tbk  (MTEL) berencana membagikan dividen dengan rasio maksimal 70% dari perolehan laba bersih perseroan sepanjang tahun 2021.

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana kekayaan abadi atau sovereign wealth fund (SWF) Tanah Air yang bernama Indonesia Investment Authority (INA) kembali menambah kepemilikan saham di emiten menara telekomunikasi Grup Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per tanggal 12 Januari 2022, INA kembali memborong saham MTEL dengan total kepemilikan kini meningkat menjadi 4,93 miliar saham atau mewakili 5,91% kepemilikan. Pembelian dilakukan atas nama PT Maleo Investasi Indonesia.

Angka tersebut kini lebih besar dari besaran saham MTEL yang dikuasai oleh GIC, pengelola dana abadi pemerintah Singapura yang menggenggam 4,76 miliar saham atau setara dengan 4,70% kepemilikan.


Sebelumnya, pada masa penawaran perdana saham MTEL memang telah dilirik oleh beberapa investor kakap. Empat di antaranya berasal dari dana abadi milik negara dan masuk melalui penawaran umum perdana saham atawa initial public offering (IPO) yang dilakukan perusahaan tahun lalu.

Keempat investor yang dimaksud adalah Indonesia Investment Authority (INA), Government of Singapore Investment Corporation (GIC), Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), dan Abu Dhabi Growth Fund (ADG).

Gencar borong Mitratel

MTEL belum melaporkan keterangan terkait perincian pembelian dan harga pemesanan atas bertambahnya kepemilikan INA di MTEL. Sebelumnya, data transaksi detail terbaru tersedia hingga transaksi yang dilaksanakan tanggal 13 Desember tahun lalu.

Transaksi pembelian tersebut dilakukan sebanyak 16 kali selama 16 hari perdagangan yang berbeda, dengan rentang harga pembelian di Rp 765/saham-793/saham.

Transaksi tersebut mendongkrak porsi kepemilikan INA di saham MTEL menjadi sebanyak 4,18 miliar saham atau setara dengan 5% dari total saham perusahaan.

Sebelum transaksi tersebut, INA sudah menggenggam 3,87 miliar atau 4,63% saham anak usaha emiten telekomunikasi BUMN PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tersebut.

"Tujuan transaksi [ini untuk] investasi jangka panjang," jelas VP Investor Relation Mitratel Rendyansyah Jovian dalam keterbukaan informasi, Senin (20/12).

Sebelumnya, bersamaan dengan debut MTEL di bursa pada 22 November lalu, INA mengumumkan, realisasi investasinya di sektor infrastruktur digital dan teknologi melalui saham MTEL.

Kala itu CIO INA Stefanus Hadiwidjaja mengatakan, keikutsertaan INA sebagai salah satu investor dalam penawaran saham perdana Mitratel merupakan wujud nyata komitmen INA untuk mendukung akselerasi pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur digital di Indonesia, terutama sektor menara telekomunikasi.

"IPO Mitratel merupakan penyaluran dana investasi pertama dari INA sebagai sovereign wealth fund Indonesia di bidang infrastruktur digital dan teknologi," kata Stefanus dalam keterangannya, Senin (22/11/2021).

Diwartakan CNBC Indonesia sebelumnya, manajemen Mitratel berencana untuk melakukan akuisisi hingga enam ribu menara dalam 2-3 tahun ke depan. Akuisisi ini merupakan bagian dari upaya pengembangan bisnis perusahaan secara anorganik.

Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan ada potensi untuk mengakuisisi menara telekomunikasi dari sister company-nya, Telkomsel yang berpotensi untuk melepas enam ribu dari delapan ribu menara yang dimilikinya saat ini.

"Yang diakuisisi sekarang yang memang punya banyak Telkomsel ada 8.000, sekitar 6.000 akan dilepas. Di samping itu ada opportunity lain operator kecil yang mau jual tower, ada lebih dari 10 dari small operator buat M&A [merger & acquisition]," jelas Hendra, kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/12/2021).

Akuisisi menara ini akan dilakukan menggunakan dana hasil penawaran umum saham perdana yang baru saja diperoleh perusahaan. Dari Rp 18 triliun yang didapat, rencananya sebagian besar akan digunakan untuk kebutuhan akuisisi ini.

Selain menambah jumlah menara baik secara organik dan anorganik, perusahaan juga menargetkan untuk meningkatkan rasio kolokasi/penyewaan (tenancy ratio) hingga ke angka 1,8x di 2025 mendatang. Mengingat saat ini tenancy ratio perusahaan masih rendah di 1,64x untuk Pulau Jawa dan 1,39x di luar Jawa.


[Gambas:Video CNBC]

(fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading